Kuliah: Investasi Rugi yang Tetap Laris
S udah cukup lama, ada buku berjudul Sekolah Itu Candu yang sempat beredar dan diam-diam mengganggu banyak orang. Disusul kemudian oleh buku lain, Pendidikan yang Memiskinkan, yang nadanya tidak kalah getir. Keduanya, dengan cara yang berbeda, seperti sedang mengatakan hal yang sama: ada yang tidak beres dengan cara kita memandang sekolah.
Waktu itu, mungkin banyak dari kita membacanya sekilas saja. Mengangguk sebentar, merasa “iya juga”, lalu kembali menjalani hidup seperti biasa. Tetap menyekolahkan anak setinggi mungkin, tetap mengejar ijazah, tetap percaya bahwa selama pendidikan ditempuh, masa depan akan ikut rapi dengan sendirinya.
Namun hari ini, ketika biaya sekolah semakin tinggi dan hasilnya semakin sulit ditebak, pertanyaan itu datang lagi dengan cara yang lebih sunyi: sebenarnya, kita ini sedang mencari ilmu, atau sedang membeli rasa aman?
Coba dihitung pelan-pelan. Biaya kuliah bukan hanya soal uang pangkal atau UKT per semester. Ada kos, makan, buku, kuota internet, hingga biaya wisuda yang sering kali lebih mirip perayaan daripada penutup perjalanan belajar. Jika ditotal, angkanya bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Jika dilihat sebagai investasi, hitungannya terasa janggal. Dengan gaji awal lulusan baru yang sering kali tidak jauh dari UMK, butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk kembali ke titik nol. Itu pun dengan catatan: langsung mendapat pekerjaan, tidak tersendat, dan tidak menambah beban baru di tengah jalan.
Tapi anehnya, sekolah dan kuliah tetap laku keras.
Barangkali karena yang kita beli memang bukan semata ilmu. Ada rasa cemas yang diam-diam ingin kita jinakkan. Takut tertinggal, takut gagal, takut tidak punya pegangan. Maka ijazah pun menjadi semacam penenang—bukan karena ia menjamin, tapi karena ia memberi ilusi bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang benar.
Di titik ini, pendidikan pelan-pelan bergeser. Ia tidak lagi dilihat sebagai proses menjadi manusia, melainkan sebagai jalur administratif untuk dianggap layak.
Masalahnya, ketika administrasi dimenangkan, substansi sering kali tertinggal.
Coba tengok desa-desa kita. Setiap tahun, kampus meluluskan sarjana pertanian dalam jumlah yang tidak sedikit. Nama jurusannya meyakinkan, kurikulumnya terdengar modern. Namun di sawah, yang masih setia bekerja justru mereka yang usianya sudah tidak muda lagi. Generasi mudanya memilih menjauh.
Kemana para sarjana itu pergi?
Sebagian besar mencari pekerjaan yang tidak lagi bersentuhan dengan tanah. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena jalur hidup yang dianggap “lebih aman” memang mengarah ke sana. Sawah tidak lagi dilihat sebagai ruang masa depan, melainkan sebagai sesuatu yang ditinggalkan pelan-pelan.
Di sini terasa ada yang terputus. Ilmu yang dipelajari tidak benar-benar pulang ke tempat ia dibutuhkan. Yang tersisa hanya gelar, sementara fungsi yang seharusnya menyertainya justru menghilang tanpa terasa.
Hal yang kurang lebih serupa juga tampak di ranah keagamaan. Ada mahasiswa yang telah bertahun-tahun belajar di jurusan syariah atau hukum Islam, tetapi masih kesulitan membaca dan memahami teks-teks dasar. Sementara itu, di tempat lain, seorang santri yang mungkin tidak mengenal istilah akademik yang rumit justru lebih luwes memaknai kitab.
Ini bukan soal siapa yang lebih unggul. Bukan pula soal memilih antara kampus atau pesantren. Yang patut direnungkan adalah mengapa kedalaman itu terasa semakin sulit ditemukan.
Barangkali karena cara kita belajar sudah terlalu terburu-buru. Dalam satu semester, terlalu banyak hal yang harus diselesaikan. Terlalu banyak yang harus dicatat. Terlalu banyak yang harus dinilai. Akibatnya, perhatian terpecah, pemahaman menjadi tipis.
Kita seperti makan banyak, tapi tidak benar-benar mencerna.
Sementara itu, kehidupan di luar terus berjalan dengan segala kerumitannya. Di desa, praktik rentenir masih ada. Di kota, ketimpangan semakin terasa. Namun ilmu yang dipelajari sering kali tidak cukup membumi untuk menjawab persoalan-persoalan itu. Ia lebih sibuk hidup di atas kertas daripada di tengah kenyataan.
Dulu, ada cara belajar yang lebih sederhana, meski hari ini mulai dianggap usang. Orang belajar dengan cara nyantrik, ngenger, ikut hidup bersama yang lebih berpengalaman. Di sana, ilmu tidak hanya dipahami, tetapi juga dijalani. Ada proses panjang yang tidak selalu bisa diukur, tapi pelan-pelan membentuk cara berpikir dan cara bersikap.
Hari ini, cara-cara semacam itu semakin jarang. Kita menggantinya dengan sistem yang lebih rapi, lebih terstruktur, tapi juga lebih transaksional. Belajar menjadi sesuatu yang bisa dibayar, diselesaikan, lalu ditinggalkan.
Dan mungkin, tanpa terasa, kita ikut menyederhanakan makna belajar itu sendiri.
Barangkali masalahnya bukan semata pada sekolah atau kampusnya. Bisa jadi, yang perlu ditinjau ulang adalah cara kita memandang semua itu sejak awal.
Kita terlalu cepat percaya bahwa ijazah adalah jawaban. Padahal ia mungkin hanya penanda—bukan tujuan.
Maka pertanyaannya kembali sederhana, meski tidak selalu nyaman: apakah kita benar-benar sedang belajar, atau hanya sedang mencari cara agar terlihat seperti orang yang sudah belajar?

Post a Comment for "Kuliah: Investasi Rugi yang Tetap Laris"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.