Suudzonisme
Silabus Perkuliahan
PROGRAM STUDI ILMU KECURIGAAN TERAPAN
Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah Dasar-Dasar Su'udzonisme membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk tidak segera percaya kepada sesuatu, termasuk kepada ketidakpercayaannya sendiri.
Su'udzonisme bukan ilmu untuk menuduh semua orang, melainkan latihan menyadari keterbatasan pengetahuan, memeriksa konteks, dan menahan kesimpulan sampai bukti memadai.
Mahasiswa akan mempelajari ontologi Su'udzonisme, epistemologi kecurigaan, framing media, verifikasi informasi, analisis wacana, serta praktikum Maido Khasanah.
Aksioma Ontologis
dan apa yang kelihatan belum tentu utuh.”
Eksperimen Tangan di Belakang
Bayangkan seseorang berdiri menghadap kita. Wajah, pakaian, dan ekspresinya terlihat jelas, tetapi kedua tangannya berada di belakang tubuh.
Apakah mengepal? Apakah memegang sesuatu? Apakah kosong?
Jawaban ilmiahnya: kita belum tahu.
Yang tidak terlihat tidak boleh dianggap tidak ada, tetapi ruang kosong pengetahuan juga tidak boleh diisi dengan karangan sendiri.
Capaian Pembelajaran
- Membedakan fakta, interpretasi, asumsi, dugaan, dan jarene tonggo.
- Menyadari bahwa informasi yang benar belum tentu merupakan informasi yang lengkap.
- Mengenali framing tanpa otomatis menuduh adanya manipulasi.
- Memeriksa sumber, konteks, bukti, dan informasi yang belum tersedia.
- Membaca berita sampai selesai sebelum marah.
- Menganalisis pilihan bahasa dan pemaknaan dalam wacana.
- Melakukan Maido Khasanah secara terukur dan tidak keminter.
- Mampu mengatakan “saya belum tahu” tanpa mengalami penurunan harga diri.
- Pada tingkat tertinggi: mencurigai kecurigaannya sendiri.
Rencana Pembelajaran Semester
| Pert. | Pokok Bahasan | Keterangan |
|---|---|---|
| 01 | Pengantar Su'udzonisme | Sejarah kecurigaan sejak manusia mengenal kepentingan. |
| 02 | Ontologi Su'udzonisme | Apa yang tidak kelihatan belum tentu tidak ada. |
| 03 | Epistemologi Kecurigaan | Pertanyaan pokok: “Dari mana kamu tahu?” |
| 04 | Eksperimen Tangan di Belakang | Fakta, batas pengamatan, dan ruang ketidaktahuan. |
| 05 | Fakta, Interpretasi, Asumsi, dan Jarene | Membedakan tingkat kepastian informasi. |
| 06 | Pengantar Framing Media | Apa yang masuk bingkai dan apa yang berada di luarnya. |
| 07 | Yang Ditampilkan dan Tidak Ditampilkan | Fakta benar belum tentu konteksnya lengkap. |
| 08 | UTS | Mencurigai soal ujian tanpa menuduh dosen menjebak mahasiswa. |
| 09 | Kovach, Rosenstiel, dan Blur | Menilai informasi di tengah banjir berita, opini, rumor, dan klaim. |
| 10 | Verifikasi Informasi | Screenshot bukan selalu bukti; potongan video bukan keseluruhan peristiwa. |
| 11 | Pengantar Analisis Wacana | Bagaimana bahasa membentuk pemaknaan. |
| 12 | Bahasa, Kekuasaan, dan Kepentingan | Tokoh, oknum, aksi, kericuhan, dan pilihan kata lainnya. |
| 13 | Membaca Berita Tanpa Cepat Marah | Baca isi, sumber, konteks, dan tanggal sebelum komentar. |
| 14 | Maido Khasanah I | Kritik tanpa menjadikan prasangka sebagai bukti. |
| 15 | Kritik atas Kecurigaan Sendiri | Menguji kemungkinan bahwa pendapat kita keliru. |
| 16 | UAS | Tema: “Saya Tidak Tahu, Maka Saya Periksa.” |
Metode Pembelajaran
Diskusi, studi kasus, pembacaan berita, analisis framing, verifikasi sumber, analisis wacana, serta praktikum menahan jempol agar tidak langsung menulis komentar.
Mahasiswa boleh berbeda pendapat dengan dosen, tetapi wajib membawa alasan, konteks, dan bukti.
Kalimat “pokoknya menurut saya begitu” tidak memperoleh tambahan nilai akademik.
Sistem Penilaian
Besarnya pengurangan akan ditentukan setelah dosen memastikan bahwa dosen sendiri tidak sedang asal curiga.
MAIDO KHASANAH
“Berprasangka buruk secukupnya, demi menemukan kemungkinan berbuat baik sebanyak-banyaknya.”
Maido bukan tujuan akhir. Ia digunakan untuk menggoyang kesimpulan yang terlalu cepat menjadi kepastian, termasuk kesimpulan kita sendiri.
Su'udzonisme yang hanya dipakai untuk mencurigai orang lain pada akhirnya bukan pemikiran kritis; ia hanya menghasilkan orang yang merasa dirinya paling sulit dibohongi.
Kode Etik Mahasiswa Su'udzonisme
Ujian Akhir
Tangan Itu Masih di Belakang
Setelah enam belas pertemuan, orang dalam eksperimen awal masih berdiri di hadapan kita dengan kedua tangan di belakang.
Apakah sekarang kita tahu apa yang ada di tangannya?
Belum.
Dan justru itulah jawaban yang benar.
Kita tidak harus menganggap tangannya kosong dan tidak berhak mengatakan ia membawa pisau. Kita cukup mengakui bahwa ada bagian realitas yang belum kita ketahui.
Bacaan Dasar
Bill Kovach & Tom Rosenstiel — Blur: How to Know What's True in the Age of Information Overload.
Literatur analisis framing dan analisis wacana yang relevan.
Silabus ini dapat berubah sewaktu-waktu apabila ditemukan fakta, argumentasi, atau bukti baru yang lebih kuat.
Sebab mempertahankan pendapat setelah buktinya berubah bukan Su'udzonisme.
Itu ngeyel.
Disahkan oleh,
Senat Akademik yang Keberadaannya Belum Terverifikasi Ketua Fakultas Maido Khasanah
Join the conversation