Sedekah Bukan Pesugihan
![]() |
| Ilustrasi oleh AI |
Di panggung-panggung pengajian, media sosial, hingga potongan video motivasi berdurasi satu menit, kita kerap menjumpai wacana yang kurang lebih berbunyi seperti ini: sedekah akan dibalas berkali-kali lipat.
Saya tidak sedang membantahnya. Saya tidak cukup alim untuk itu.
Yang agak menggelitik justru cara kita memahami balasan tersebut.
Sebab entah bagaimana, kalau yang kita sedekahkan berupa uang, kita juga berharap balasannya berupa uang. Sedekah seribu rupiah, kalau bisa kembali satu juta. Kalau hanya kembali seribu, selain tidak berkali-kali lipat, mungkin kita merasa investasinya kurang menarik.
Maka sedekah kadang terdengar sangat mirip proposal investasi.
Hari ini keluar satu juta, besok berharap datang sepuluh juta. Seolah-olah langit bekerja seperti mesin ATM spiritual: setor amal, tunggu saldo bertambah.
Padahal mungkin justru di situlah masalahnya.
Bukan pada keyakinan bahwa kebaikan akan mendapat balasan, tetapi pada kebiasaan kita yang diam-diam ikut menentukan bentuk balasannya.
Yang keluar rupiah, maunya pulang rupiah.
Kalau yang datang justru badan sehat, anak-anak tidak sakit, pekerjaan masih ada, tidur lebih nyenyak, atau ketika sedang kesusahan tiba-tiba ada orang yang membantu, semua itu kadang tidak masuk pembukuan.
Sebab sejak awal kita sudah telanjur membawa kalkulator.
Atau, amit-amit jabang bayi, kita sudah mengantre BBM selama satu jam. Ketika tinggal beberapa meter lagi sampai pompa, petugas mengumumkan stok habis. Kita bisa menerima, menghidupkan motor, lalu pulang tanpa mengumpat petugas yang sebenarnya juga tidak bersalah.
Kemampuan untuk tidak marah seperti itu pun barangkali tidak pernah kita hitung sebagai imbal hasil.
Padahal siapa tahu kemampuan untuk tidak gampang jengkel, tidak merasa dunia harus selalu berjalan sesuai keinginan kita, dan tidak menjadikan orang lain sasaran kemarahan adalah kekayaan yang jauh lebih sulit dikumpulkan daripada uang.
Kita terlalu sibuk memeriksa apakah saldo bertambah sampai lupa memeriksa apakah diri kita berubah.
Di situlah saya kira sedekah menjadi menarik.
Sebab uang sebenarnya tidak otomatis berbahaya hanya karena jumlahnya banyak. Orang yang tidak punya banyak uang pun bisa sangat diperbudak olehnya. Sebaliknya, orang kaya belum tentu rakus.
Masalahnya mungkin bukan terutama berapa banyak uang yang kita miliki, tetapi seberapa besar ruang yang kita izinkan untuk ditempatinya di dalam kepala.
Ketika uang mulai menentukan harga diri, manusia perlahan melihat dunia melalui angka. Kehilangan sedikit terasa seperti kiamat kecil. Penurunan status dianggap kehancuran martabat. Kekayaan tidak lagi menjadi sesuatu yang dimiliki, tetapi justru sesuatu yang balik memiliki pemiliknya.
Dan yang mengerikan dari kekayaan bukan selalu kemewahan yang tampak di luar. Bisa jadi justru kesombongan kecil yang tumbuh diam-diam di dalam kepala: perasaan bahwa karena kita punya cukup uang, segala sesuatu bisa diatur, dibeli, bahkan dikendalikan.
Barangkali karena itulah sedekah dalam tradisi Islam tidak hanya menarik kalau dilihat sebagai cara membantu orang yang membutuhkan.
Ia juga bisa dibaca sebagai cara menyelamatkan orang yang memiliki harta dari keterikatannya sendiri.
Kita bisa melihat kegelisahan semacam itu pada Abdurrahman bin Auf.
Ia dikenal sebagai saudagar dengan kekayaan besar. Tetapi kekayaan rupanya tidak selalu membuatnya merasa telah selesai dengan urusan dunia. Ada satu cerita menarik tentang dirinya yang tercatat dalam Sahih al-Bukhari, hadis nomor 1274.
Saya sengaja mencantumkan nomor hadisnya. Minimal sedikit tribute kepada pesantren yang pernah saya tumpangi untuk belajar, tidur, makan, dan tentu saja buang air. Masa pernah jadi santri, menulis soal beginian sumbernya cuma, “kalau tidak salah pernah dengar.”
Dalam riwayat itu diceritakan, suatu hari ketika makanan dihidangkan di hadapannya, Abdurrahman bin Auf justru teringat Mus‘ab bin ‘Umair yang telah gugur. Mus‘ab, katanya, lebih baik darinya, tetapi ketika wafat bahkan kain yang tersedia untuk mengafaninya sangat terbatas.
Lalu muncul kegelisahan yang bagi kita hari ini mungkin terasa agak asing: jangan-jangan kenikmatan telah disegerakan kepada mereka dalam kehidupan dunia.
Abdurrahman bin Auf menangis.
Menariknya, yang membuatnya gelisah bukan karena hartanya kurang.
Justru karena ia mempunyai banyak.
Bagi manusia modern, kegelisahan semacam itu mungkin agak sulit dipahami.
Hari ini kekayaan justru dipamerkan sebagai trofi keberhasilan. Rumah, kendaraan, perjalanan, saldo, barang bermerek—semuanya bisa menjadi pengumuman bahwa seseorang telah berhasil menjalani hidup.
Tidak salah juga. Wong punya barang bagus masa harus disembunyikan di kandang ayam.
Persoalannya menjadi lain ketika apa yang kita miliki mulai menjadi ukuran tentang siapa diri kita.
Di titik itu, sedekah mestinya mempunyai pekerjaan yang lebih dalam daripada sekadar memindahkan sebagian uang dari satu dompet ke dompet lain.
Ia melatih manusia melepaskan.
Bukan berarti manusia dilarang kaya. Islam tidak mengharamkan perdagangan atau kemakmuran. Yang dilatih barangkali justru kemampuan untuk mempunyai tanpa merasa harus menggenggam semuanya.
Sebab semakin takut manusia kehilangan uang, semakin besar kemungkinan uang mengendalikan hidupnya.
Mungkin itu sebabnya sedekah kadang terasa berat.
Yang sesungguhnya sedang dilawan bukan hanya kemiskinan orang lain, tetapi rasa takut dalam diri sendiri.
Takut berkurang. Takut jatuh. Takut tidak aman.
Ketika tangan mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya masih ingin disimpan, ada latihan kecil untuk mengatakan kepada diri sendiri: “Saya masih bisa hidup meskipun tidak menggenggam semuanya.”
Pada titik itulah sedekah mulai menjauh dari transaksi.
Kita tidak lagi memberi seribu agar seribu itu pulang membawa sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu temannya.
Kita memberi karena sedang belajar bahwa tidak semua yang berada dalam genggaman harus dipertahankan mati-matian.
Dan mungkin di sinilah pembicaraan tentang “keajaiban sedekah” bisa kita lihat dari arah yang sedikit berbeda.
Kita sering terpukau kepada orang dermawan yang hidupnya tampak lapang, usahanya berkembang, dan hartanya terus bertambah. Lalu hubungan sebab-akibat segera dibuat: ia banyak bersedekah, maka hartanya banyak.
Bisa jadi.
Tetapi mungkin ada proses lain yang tidak terlihat.
Orang yang tidak terlalu diperbudak ketakutan kehilangan bisa lebih tenang mengambil keputusan. Ia mungkin lebih mudah dipercaya, lebih ringan membantu orang, lebih luas membangun hubungan, dan tidak menghabiskan seluruh tenaga hidupnya untuk mempertahankan apa yang sudah dimiliki.
Artinya, yang berubah pertama-tama mungkin bukan saldo rekeningnya.
Yang berubah adalah manusianya.
Karena itu saya mulai berpikir, mungkin kita terlalu sempit ketika bertanya: “Setelah bersedekah, apa yang saya dapat?”
Sesekali pertanyaannya perlu dibalik:
“Setelah bersedekah, apa yang berkurang dari diri saya?”
Apakah ketakutan kehilangan sedikit berkurang?
Apakah kerakusan berkurang?
Apakah kebutuhan untuk selalu merasa lebih tinggi daripada orang lain berkurang?
Apakah kita menjadi sedikit lebih tenang ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan?
Kalau iya, jangan-jangan balasannya sudah datang.
Hanya saja kita tidak mengenalinya karena sejak awal menunggu notifikasi mobile banking.
Di zaman ketika hampir segala sesuatu diukur dengan untung-rugi, kemampuan untuk memberi tanpa sibuk menentukan balasannya mungkin merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang masih tersisa.
Dan bisa jadi manusia yang paling kaya bukanlah manusia yang paling banyak menyimpan, melainkan yang paling sedikit diperbudak oleh apa yang ia simpan.
Maka silakan tetap percaya bahwa sedekah seribu rupiah bisa dibalas berkali-kali lipat.
Saya juga ingin percaya demikian.
Hanya saja, barangkali kita tidak perlu terlalu cerewet mengatur bentuk pembayarannya.
Sebab kalau yang kita sedekahkan uang lalu kita bersikeras balasannya harus uang, jangan-jangan sejak awal kita memang tidak sedang belajar melepaskan apa-apa.
Kita cuma sedang menunggu uang itu pulang membawa teman.
Dan kalau suatu hari balasannya justru berupa hati yang sedikit lebih lapang, kemampuan menerima kehilangan, atau kesanggupan mengantre BBM satu jam lalu tetap tersenyum ketika stok habis tepat di depan kita, jangan buru-buru merasa sedekah kita belum menghasilkan apa-apa.
Bisa jadi imbal hasilnya sudah masuk. Cuma memang tidak tercatat di rekening.

Join the conversation