Pesta Babi: Tidak Suka, Tapi Memang Harus Ada
Khafi.id—Sejak film Pesta Babi tayang, media sosial langsung ramai. Ada yang mengkritik, ada yang tidak setuju, dan seperti biasa, sebagian percakapan kemudian bergeser menjadi lebih keras: hujatan, bahkan celaan. Dan jujur saja, saya juga belum nonton film ini karena tidak mau.
Film dokumenter seperti ini memang sering berada di wilayah yang tidak nyaman. Cara bercerita, sudut pandang, hingga emosi yang dibawa di dalamnya bisa terasa “tidak pas” bagi sebagian orang. Dan itu wajar. Tidak semua karya harus terasa cocok untuk semua orang.
Ada film yang terasa terlalu keras, ada yang terlalu satu arah, ada juga yang lebih banyak membangkitkan perasaan daripada memberi penjelasan. Dalam dunia dokumenter, hal seperti ini bukan hal baru.
Tapi masalahnya, ketidakcocokan sering kali tidak berhenti di situ.
Seharusnya, tidak cocok itu cukup sampai di “tidak suka”. Selesai di situ. Tapi yang terjadi kadang berbeda. Ketidaksukaan berubah menjadi dorongan untuk menghapus, menolak, atau menganggap karya itu tidak layak ada sama sekali.
Padahal, tidak suka dan “tidak boleh ada” adalah dua hal yang berbeda.
Tidak suka adalah soal selera dan pengalaman pribadi. Sedangkan “tidak boleh ada” sudah masuk ke wilayah membatasi ruang orang lain untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Film seperti Pesta Babi, misalnya, sering tidak menawarkan jawaban yang rapi. Ia lebih seperti membuka pintu: menunjukkan sesuatu, lalu membiarkan penonton berdiri dengan perasaan yang tidak selalu nyaman. Kadang marah, kadang bingung, kadang hanya diam.
Dan di situlah biasanya masalah berikutnya muncul.
Karena setelah film selesai, hidup tidak ikut berhenti. Kita kembali ke rutinitas, tapi perasaan yang tertinggal tidak selalu ikut selesai. Ada yang mengendap, ada yang mengganggu, ada yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Dalam kondisi seperti itu, kritik sebenarnya wajar. Bahkan penting. Tidak semua cara bercerita harus diterima begitu saja. Kita tetap perlu jarak agar tidak menelan semuanya tanpa berpikir.
Tapi belakangan, yang sering muncul bukan hanya kritik terhadap isi film, melainkan kecurigaan terhadap niat di baliknya.
Pertanyaan yang muncul bukan lagi “apa yang disampaikan?”, melainkan “siapa yang mendanai?”, “apa agendanya?”, atau “siapa yang diuntungkan?”.
Seolah-olah setiap cerita harus punya motif tersembunyi, dan tidak mungkin ada suara yang muncul tanpa kepentingan tertentu.
Cara pandang seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Kita hidup di dunia yang memang penuh transaksi. Banyak hal bekerja karena kepentingan, dukungan, dan imbalan. Lama-lama, kita terbiasa melihat semua hal dengan kacamata yang sama.
Akibatnya, bahkan ketika ada sesuatu yang tampak jujur atau sekadar ingin bercerita, kita langsung curiga. Bukan lagi isi yang dibahas, tapi niatnya yang dicari-cari.
Padahal, bahkan kalau pun ada kepentingan di baliknya, pertanyaan pentingnya tetap sama: apakah isi ceritanya jadi otomatis tidak layak didengar?
Di titik ini, pergeseran itu terlihat jelas. Dari kebiasaan berdiskusi, menjadi kebiasaan mencurigai. Dari membahas isi, menjadi sibuk menebak motif.
Dan dalam suasana seperti itu, film seperti Pesta Babi bukan lagi sekadar karya. Ia berubah menjadi pemicu perdebatan yang sering kali tidak lagi fokus pada apa yang ditampilkan, tapi pada apa yang diduga ada di belakangnya.
Mungkin ini juga berkaitan dengan cara kita memandang kekuasaan dan sistem di sekitar kita. Ketika ruang percaya semakin kecil, segala sesuatu terasa perlu diawasi, bahkan sebelum dipahami.
Di sisi lain, ini juga menimbulkan dilema. Karena terlalu banyak curiga bisa membuat kita kehilangan kemampuan sederhana: mendengarkan dulu sebelum menolak.
Tidak semua orang harus setuju. Tidak semua hal harus diterima begitu saja. Tapi setidaknya, ada ruang untuk memahami sebelum menghakimi.
Tanpa itu, kita mudah terjebak dalam pola yang sama: menonton, marah, lalu melupakan—berulang tanpa benar-benar selesai.
Maka mungkin yang dibutuhkan bukan hanya film yang lebih “aman”, tapi juga ruang yang lebih lapang dalam diri kita sendiri. Ruang untuk menampung hal-hal yang tidak langsung kita pahami, tanpa harus buru-buru menolaknya.
Karena pada akhirnya, tidak semua yang tidak kita sukai harus dihapus dari ruang percakapan.
Kadang, cukup kita biarkan ia ada—sebagai sesuatu yang bisa kita pikirkan pelan-pelan, tanpa harus langsung diputuskan hari ini juga.

Post a Comment for "Pesta Babi: Tidak Suka, Tapi Memang Harus Ada"
Post a Comment
Segala bentuk komentar bukan tanggung jawab pemilik situs ini.