Gambar hanya ilustrasi AI. Jika ada kesamaan hanya kebetulan belaka. Belakangan ini ramai sekali pidato KH Hasan Abdullah Sahal , pimpinan Pondok Mod…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSe5he0zXL16TzSEhIsKiqg74btzDuOQKBcf7jnO0a-lG7xAD3FGsjCD-pCtMk1Dv56oVlckyubb6hFrss_D_cVVKyeyzkaWoKelnHhAGC-c7snztCKKzAHyj2uaQrLMXoqjc0aMzmSLCcwgshGv7nBlwAEXNgju9dLbeus_40EN5C4c0Qp_CGt49Jvns/s800/Ilustrasi%20pidato%20kiai.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="450" data-original-width="800" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSe5he0zXL16TzSEhIsKiqg74btzDuOQKBcf7jnO0a-lG7xAD3FGsjCD-pCtMk1Dv56oVlckyubb6hFrss_D_cVVKyeyzkaWoKelnHhAGC-c7snztCKKzAHyj2uaQrLMXoqjc0aMzmSLCcwgshGv7nBlwAEXNgju9dLbeus_40EN5C4c0Qp_CGt49Jvns/s1600-rw/Ilustrasi%20pidato%20kiai.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Gambar hanya ilustrasi AI. Jika ada kesamaan hanya kebetulan belaka.</td></tr></tbody></table><br /><p>Belakangan ini ramai sekali pidato <b>KH Hasan Abdullah Sahal</b>, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, di hadapan Prabowo. Banyak orang memuji keberanian beliau karena dianggap berani berbicara terang-terangan, menyampaikan nasihat di depan presiden tanpa terlihat <i>ewuh pakewuh</i>.</p>
<p>Ramainya bukan main. Beranda media sosial saya sampai dipenuhi potongan video, kutipan, pujian, dan status orang-orang yang mendadak seperti baru menemukan definisi tentang bagaimana seharusnya seorang kiai berdiri di hadapan kekuasaan.</p>
<p>Saya sendiri sangat menyukai pidato <b>Kiai Hasan</b>. Dalam perkara ini, saya mungkin tidak berbeda dengan kebanyakan orang yang membagikan video tersebut.</p>
<p>Pidato itu memang disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, 19 September 2026, yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Salah satu bagian yang kemudian ramai dibicarakan adalah ketika Kiai Hasan mempersilakan dirinya diprotes, dikritik, bahkan didemo apabila makanan, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggalnya melebihi para santri.</p>
<p>Belum lagi cerita mengenai kesederhanaan hidup beliau. Pimpinan salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia itu dikenal menjalani kehidupan yang sederhana. Maka lengkap sudah kekaguman publik: berani di hadapan kekuasaan, sekaligus tidak silau oleh kemewahan.</p>
<p>Sampai di sini, tidak ada masalah.</p>
<p>Masalah mulai muncul ketika kekaguman kepada Kiai Hasan perlahan berubah menjadi alat pemukul untuk kiai-kiai lain.</p>
<p><i>"Begini seharusnya kiai."</i></p>
<p><i>"Berani menasihati penguasa."</i></p>
<p><i>"Tidak silau harta dan jabatan."</i></p>
<p>Lalu mulailah muncul perbandingan. Ada yang menyindir kiai dari pesantren lain. Ada yang membawa-bawa kiai NU. Ada yang mempertentangkan kesederhanaan Kiai Hasan dengan beberapa kiai yang dianggap hidup bermewah-mewahan.</p>
<p>Seolah-olah setelah video itu viral, seluruh kiai di Indonesia mendadak harus mengikuti ujian kompetensi dengan Kiai Hasan sebagai kisi-kisinya.</p>
<p>Padahal ada satu persoalan sederhana yang sering kita lupakan:</p>
<p><b></b></p><blockquote><b>Banyak juga kiai NU yang sederhana. Banyak pula yang berani. Cuma mungkin mereka belum pernah kebagian kesempatan bertemu Presiden Prabowo.</b></blockquote><p></p>
<h2>Ketika Kekaguman Menjadi Kacamata</h2>
<p>Dalam psikologi ada istilah <i>halo effect</i>. Sederhananya, ketika kita menemukan satu sifat positif yang sangat menonjol pada seseorang, kesan positif tersebut dapat memengaruhi penilaian kita terhadap sifat-sifat lainnya.</p>
<p>Kiai Hasan tampil sederhana. Beliau berbicara lugas. Di depannya kebetulan duduk orang nomor satu di republik ini. Kombinasi ketiganya memang dahsyat.</p>
<p>Lalu otak kita bekerja cepat.</p>
<p>Sederhana berarti baik.</p>
<p>Berani bicara di depan presiden berarti independen.</p>
<p>Tidak bermewah-mewahan berarti tidak dekat dengan kepentingan.</p>
<p>Sebagian kesimpulan itu mungkin benar. Tetapi masalahnya muncul ketika kesan tersebut tidak lagi digunakan untuk mengagumi Kiai Hasan, melainkan dipakai sebagai penggaris untuk mengukur semua kiai lain.</p>
<p>Kiai Hasan sederhana, maka kiai yang rumahnya bagus mulai dicurigai.</p>
<p>Kiai Hasan berani bicara di depan presiden, maka kiai yang tidak pernah kita lihat melakukan hal serupa dianggap tidak berani.</p>
<p>Padahal bisa jadi persoalannya jauh lebih sederhana:</p>
<p><b>Presidennya memang belum pernah mampir.</b></p>
<h2>Moral Benchmark Syndrome</h2>
<p>Di sinilah saya kira kita sedang terkena penyakit yang untuk sementara boleh kita beri nama <b>Moral Benchmark Syndrome.</b></p>
<p>Ini tentu bukan istilah psikologi. Jangan dicari di jurnal ilmiah. Apalagi dibawa konsultasi ke dokter.</p>
<p>Gejalanya adalah kecenderungan menganggap orang yang kebetulan memperoleh panggung untuk menunjukkan suatu kualitas sebagai satu-satunya orang yang memiliki kualitas tersebut.</p>
<p>Kita melihat seorang kiai berani berbicara di hadapan presiden, lalu lupa bahwa ada banyak bentuk keberanian yang tidak direkam kamera.</p>
<p>Ada kiai yang mungkin tidak pernah bertemu presiden, tetapi berani berhadapan dengan kepala desa ketika tanah warga bermasalah.</p>
<p>Ada yang berani menegur pejabat kabupaten.</p>
<p>Ada yang mendampingi petani.</p>
<p>Ada yang menolak proyek yang dianggap merugikan masyarakat.</p>
<p>Ada pula yang mungkin sepanjang hidupnya tidak pernah masuk televisi, tetapi tetap hidup sederhana bersama jamaahnya.</p>
<p>Apakah semuanya ada? Tentu perlu dilihat satu per satu. Justru itu pokok persoalannya: <b>jangan menyimpulkan keadaan ribuan kiai hanya dari siapa yang kebetulan sedang viral.</b></p>
<p>Media sosial memang punya kebiasaan aneh. Ia membuat yang terlihat terasa seperti satu-satunya yang ada.</p>
<p>Yang tidak masuk kamera dianggap tidak melakukan apa-apa.</p>
<p>Yang tidak viral dianggap diam.</p>
<p>Yang tidak berfoto dengan pejabat dianggap tidak pernah bertemu pejabat.</p>
<p>Dan yang kebetulan tidak pernah memperoleh kesempatan menasihati presiden di depan umum akhirnya dianggap tidak berani menasihati presiden.</p>
<p>Lha presidennya saja belum pernah ketemu.</p>
<p><i>Mau dinasihati lewat apa? Kolom komentar Instagram?</i></p>
<h2>Dari Mengagumi Menjadi Menghakimi</h2>
<p>Ada kekeliruan lain yang lebih menggelitik.</p>
<p>Kita sering tidak puas hanya dengan mengagumi seseorang. Kekaguman terasa kurang lengkap kalau belum digunakan untuk merendahkan orang lain.</p>
<p>Kita tidak cukup berkata:</p>
<p><i>"Kiai Hasan sederhana."</i></p>
<p>Harus ditambah:</p>
<p><i>"Tidak seperti kiai anu."</i></p>
<p>Tidak cukup berkata:</p>
<p><i>"Kiai Hasan berani."</i></p>
<p>Harus diteruskan:</p>
<p><i>"Coba kiai-kiai yang lain seperti beliau."</i></p>
<p>Akhirnya pujian membutuhkan korban.</p>
<p>Padahal keutamaan seseorang tidak otomatis membuktikan keburukan orang lain.</p>
<p>Kalau tetangga saya rajin salat malam, itu merupakan kebaikan tetangga saya. Tidak otomatis membuktikan bahwa saya setiap malam mabuk.</p>
<p>Logikanya tidak sampai ke sana.</p>
<p>Begitu pula kesederhanaan Kiai Hasan tidak otomatis menjadi bukti bahwa kiai pesantren lain hidup bermewah-mewahan. Dan keberanian beliau berbicara di depan Presiden Prabowo tidak otomatis membuktikan bahwa kiai lain takut kepada kekuasaan.</p>
<p>Kalau memang ada kiai yang hidup berlebihan, kritiklah berdasarkan kenyataan hidupnya.</p>
<p>Kalau ada kiai yang menjilat kekuasaan, kritiklah berdasarkan ucapan dan tindakannya.</p>
<p>Kalau ada yang menggunakan umat sebagai tangga menuju jabatan, ya silakan dibicarakan berdasarkan bukti.</p>
<p>Tetapi jangan menjadikan satu orang baik sebagai bukti bahwa semua orang yang tidak menyerupainya pasti buruk.</p>
<p>Itu bukan kritik.</p>
<p><b>Itu kemalasan berpikir yang kebetulan memakai peci.</b></p>
<h2>Kiai NU Juga Tidak Dicetak Satu Pabrik</h2>
<p>Terlebih ketika perbandingan mulai diarahkan kepada <i>"kiai NU"</i>.</p>
<p>Istilah ini sendiri sudah sangat luas.</p>
<p>Ada kiai pesantren besar, ada kiai kampung. Ada yang mengasuh ribuan santri, ada yang santrinya tiga puluh orang. Ada yang dekat dengan pejabat, ada yang jangankan bertemu presiden, ketemu camat saja mungkin setahun sekali ketika acara Agustusan.</p>
<p>Ada yang berkecukupan. Ada yang rumahnya sederhana. Ada yang vokal. Ada yang memilih berbicara melalui pengajian. Ada yang bergerak mendampingi masyarakat tanpa pernah masuk berita.</p>
<p>Menyimpulkan semuanya dengan kalimat <i>"kiai NU begini"</i> atau <i>"kiai NU begitu"</i> sama saja seperti melihat satu pengendara Supra menerobos lampu merah lalu menyimpulkan bahwa seluruh pemilik Honda Supra tidak mengenal rambu lalu lintas.</p>
<p>Motornya sama. Kelakuan pengendaranya belum tentu.</p>
<p>Begitu pula organisasi, pesantren, atau tradisi keagamaan tidak otomatis membuat semua orang di dalamnya memiliki watak yang sama.</p>
<p>Karena itu, membandingkan seorang Kiai Hasan yang konkret dengan sebuah kelompok besar bernama <i>"kiai NU"</i> sejak awal memang tidak seimbang.</p>
<p>Yang satu orang.</p>
<p>Yang satunya entah berapa ribu.</p>
<h2>Tetap Kagum, Tidak Perlu Mendadak Goblok</h2>
<p>Kita tetap boleh—bahkan layak—mengagumi KH Hasan Abdullah Sahal.</p>
<p>Pidatonya menarik. Sikapnya mengenai kesederhanaan pemimpin layak direnungkan. Keberaniannya menyampaikan prinsip tersebut di sebuah acara yang dihadiri Presiden Republik Indonesia juga merupakan peristiwa publik yang wajar mendapat perhatian.</p>
<p>Tetapi kekaguman seharusnya membuat pikiran kita semakin jernih, bukan malah kehilangan kemampuan membedakan.</p>
<p>Kita bisa berkata Kiai Hasan sederhana tanpa harus menuduh semua kiai lain bermewah-mewahan.</p>
<p>Kita bisa menghargai keberaniannya tanpa harus menganggap orang yang tidak muncul dalam video itu pengecut.</p>
<p>Kita juga bisa mengkritik kiai, pesantren, NU, Gontor, pejabat, bahkan presiden sekalipun berdasarkan tindakan konkret mereka masing-masing—bukan berdasarkan perbandingan yang kita bangun dari potongan video yang sedang viral.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, mungkin persoalan kita bukan kekurangan teladan.</p>
<p>Kita justru sering terlalu cepat menemukan teladan, terlalu cepat mengangkatnya menjadi standar universal, lalu terlalu bersemangat menggunakannya untuk memukul kepala orang lain.</p>
<p>Kiai Hasan tidak salah.</p>
<p>Pidatonya juga tidak salah.</p>
<p>Yang kadang agak bermasalah adalah kita: <b>baru beberapa menit kagum kepada kebijaksanaan seorang kiai, sudah menggunakan kekaguman itu dengan cara yang tidak begitu bijaksana.</b></p>
<p>Dan kalau besok muncul video kiai lain yang lebih viral, entah siapa lagi yang akan kita pukul dengannya.</p>
<p>Begitulah algoritma bekerja.</p>
<p><b>Hari ini kita mendapat teladan. Besok kita mencari korban perbandingan.</b></p><p></p><p></p>
Ilustrasi ole AI Sepuluh ribu bagi sebagian orang mungkin bukan uang yang banyak. Tapi bagi saya sebagai warga desil 3,5, uang sepuluh ribu sudah s…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBc7cUc2uocPrJkWAba4Ke8zlsqyMGzXTMIXif8sbteOOpmZiDyn3SGqWUmKhRSzIbF7LV2jHbzSbuy7WvBuBTrRnyPa0FhAaepRSfefnH89pcIe6Ge6bcIhTOPPfGL-MFGlb6M4LhMDsbEdyMPv6I6yu5wuOfAZQI3OGWonk5wak6mbmXIYNUqadbppE/s640/Tragedi%20uang%20sepuluh%20ribu%20palsu.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBc7cUc2uocPrJkWAba4Ke8zlsqyMGzXTMIXif8sbteOOpmZiDyn3SGqWUmKhRSzIbF7LV2jHbzSbuy7WvBuBTrRnyPa0FhAaepRSfefnH89pcIe6Ge6bcIhTOPPfGL-MFGlb6M4LhMDsbEdyMPv6I6yu5wuOfAZQI3OGWonk5wak6mbmXIYNUqadbppE/s1600-rw/Tragedi%20uang%20sepuluh%20ribu%20palsu.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi ole AI</td></tr></tbody></table>
<p>Sepuluh ribu bagi sebagian orang mungkin bukan uang yang banyak. Tapi bagi saya sebagai warga desil 3,5, uang sepuluh ribu sudah seperti jimat yang harus dirawat.<p/>
<p>Hari itu seperti hari-hari biasanya. Cuaca panas dan berangin. Ada panggilan dari seorang kawan untuk datang. Saya diajak mengantarkan barang sekaligus menemui beberapa orang.</p>
<p>Sebelum berangkat, saya memeriksa beberapa tempat yang sekiranya memungkinkan ada uang terselip.</p>
<p>Tidak ada.</p>
<p>Saya periksa jok motor.</p>
<p>Aha!</p>
<p>Ada sepuluh ribu.</p>
<p>Cukup.</p>
<p>Saya pun berangkat dengan kepercayaan diri yang sebenarnya agak tidak sebanding dengan kekuatan finansial. Sepanjang perjalanan saya sudah membuat perhitungan matang: Pertalite satu liter di SPBU besar, sedangkan secangkir kopi nanti dibayari teman.</p>
<p>Keuangan aman.</p>
<p>Bahkan dari rumah sebenarnya saya sudah sempat merapal mantra:</p>
<p><i>“Bismillahirrahmanirrahim... kelawan nyebut asmane Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala, Kang Maha Welas Asih... Ingsun ametak ajiku, aji golek duit. Modal sepuluh ewu dadi limangatus ewu, modal ngopi dibayari, kenek ngge munggah kaji.... Amin.”</i></p>
<p>Dengan modal sepuluh ribu dan doa yang target pertumbuhan investasinya mencapai lima ribu persen itu, saya berangkat dengan tenang.</p>
<p>Sesampainya di SPBU, saya antre seperti biasa, sebagaimana wajarnya warga desil 6 ke bawah.</p>
<p>Ketika tiba giliran saya, petugas memasukkan <i>nozzle</i> ke lubang tangki.</p>
<p><i>“Pinten, Mas?”</i></p>
<p>Dengan percaya diri dan sedikit merasa gagah, saya menjawab:</p>
<p><i>“Sedasa ewu, Mas.”</i></p>
<p>Pertalite dikocorkan. Angka di mesin bergerak dan berhenti tepat di Rp10.000.</p>
<p>Saya merogoh saku celana. Ketemu. Selembar uang yang sejak tadi menjadi fondasi perekonomian perjalanan hari itu saya serahkan kepada petugas.</p>
<p>Saya bahkan tidak memeriksanya lagi.</p>
<p>Lalu petugas mengatakan:</p>
<p><i>“Lha, niki palsu, Mas.”</i></p>
<p><i>“Hah... milo ta, Mas?”</i></p>
<p>Selesai.</p>
<p>Rupanya mantra <i>aji golek duit</i> yang saya rapalkan tadi ada kesalahan teknis. Bukannya mengubah sepuluh ribu menjadi lima ratus ribu, malah membuat sepuluh ribu yang saya bawa menjadi palsu.</p>
<p>Saya panik.</p>
<p>Wong uangnya hanya itu.</p>
<p>Antrean di belakang semakin panjang. Orang-orang menunggu saya yang masih berdiri di depan pompa dengan Pertalite sepuluh ribu yang sudah telanjur masuk ke tangki, sementara alat pembayarannya baru saja dinyatakan tidak sah oleh negara.</p>
<p>Saya terpaksa memajukan motor sedikit ke depan dan ke samping agar antrean tetap berjalan.</p>
<p>Lalu mulailah sebuah pertunjukan kecil untuk mempertahankan harga diri.</p>
<p>Saya merogoh saku celana. Saku satunya lagi. Membuka dompet. Membuka tas. Memeriksa tempat-tempat yang sebenarnya sudah saya tahu isinya.</p>
<p>Padahal saya sadar betul: <b>tidak ada.</b></p>
<p>Selain uang sepuluh ribu palsu tadi, saya cuma punya beberapa uang receh yang kalau dikumpulkan pun lima ribu rupiah tidak sampai.</p>
<p>Tetapi demi tetap terlihat sebagai manusia yang memiliki kendali atas perekonomian pribadi, saya terus mencari.</p>
<p>Saya kemudian mengeluarkan HP.</p>
<p>Dengan gaya seperti orang yang baru teringat bahwa dirinya hidup di zaman ekonomi digital, saya membuka <i>e-wallet</i>. Siapa tahu keselamatan datang melalui teknologi finansial.</p>
<p>Saldo: <b>Rp1.250.</b></p>
<p><b>SERIBU DUA RATUS LIMA PULUH RUPIAH.</b></p>
<p>Bukan seratus dua puluh lima ribu. Bukan pula dua belas ribu lima ratus.</p>
<p>Seribu. Dua ratus. Lima puluh.</p>
<p>Saat itulah saya sadar, digitalisasi ternyata tidak selalu membuat orang terlihat modern. Kadang ia hanya menyediakan cara yang lebih canggih untuk memastikan bahwa kita memang tidak punya uang.</p>
<p>Saya terpaksa merawat kepanikan itu selama beberapa menit.</p>
<p>Saku yang sama saya periksa lagi. Dompet dibuka lagi. Tas dilihat lagi.</p>
<p>Entah kenapa saya masih melakukannya. Mungkin manusia memang begitu. Ketika uang tidak ada, kita masih berharap hukum alam berubah hanya karena saku diperiksa untuk ketiga kalinya.</p>
<p>Dalam kondisi seperti itu, saya bahkan tidak berani menatap langit.</p>
<p>Lha kok menatap langit.</p>
<p>Mengamati wajah orang dengan teliti saja saya tidak berani. Rasanya semua mata sedang melihat ke arah saya, meskipun mungkin sebenarnya tidak ada yang peduli. Orang-orang hanya ingin mengisi bensin lalu pergi. <b>Atau mungkin sebagian dari mereka sama dengan saya, hanya beda momen.</b></p>
<p>Tetapi kalau sedang malu, kita memang sering merasa menjadi pusat perhatian dunia.</p>
<p>Sampai beberapa menit kemudian seorang petugas SPBU menghampiri.</p>
<p><i>“Wonten nopo, Mas?”</i></p>
<p>Saya masih tidak berani melihat wajahnya. Masih <i>clingak-clinguk</i>, sambil berharap entah bagaimana ada uang terselip di suatu tempat untuk membayar Pertalite yang telanjur masuk ke tangki.</p>
<p>Akhirnya saya menjawab lirih:</p>
<p><i>“Duitku sedasa ewu palsu, Mas.”</i></p>
<p><i>“Lha terus pripun?”</i></p>
<p><i>“Nggih dereng mbayar, Mas. Wong artone palsu, kok.”</i></p>
<p>Petugas itu bertanya lagi:</p>
<p><i>“Namung sedasa ewu ngisine?”</i></p>
<p><b>Namung sedasa ewu?</b></p>
<p>Saya agak <i>ndredeg</i> mendengarnya.</p>
<p>Ternyata sepuluh ribu rupiah adalah <i>“namung”</i> bagi beberapa orang dalam kondisi tertentu.</p>
<p>Padahal sejak berangkat tadi, sepuluh ribu itulah yang membuat saya cukup percaya diri meninggalkan rumah. Sepuluh ribu itu sudah saya hitung baik-baik: cukup untuk membeli Pertalite satu liter, cukup untuk membawa motor pergi dan pulang, sementara urusan kopi sudah saya masukkan ke dalam pos anggaran orang lain.</p>
<p>Bahkan ketika diketahui palsu, saya masih menghabiskan beberapa menit untuk mencari penggantinya.</p>
<p>Jadi ketika orang itu mengatakan <i>“namung sedasa ewu”</i>, saya baru sadar bahwa nilai uang ternyata tidak hanya ditentukan oleh angka yang tercetak di atasnya.</p>
<p>Sepuluh ribu bisa menjadi <i>“namung”</i> bagi seseorang, tetapi bisa menjadi seluruh rencana perjalanan bagi orang lainnya.</p>
<p>Belum selesai saya memikirkan kata <i>namung</i>, petugas tadi melanjutkan:</p>
<p><i>“Lek namung sedasa ewu mawon, sampun kersane. Panjenengan isi malih dados kalih dasa ewu, kersane mengke saget PP.”</i></p>
<p>Saya semakin <i>ndredeg</i>.</p>
<p>Saya diam sebentar, mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan orang ini.</p>
<p>Sepuluh ribu yang sudah masuk ke tangki belum saya bayar. Uang saya palsu. Receh tidak cukup. Saldo <i>e-wallet</i> Rp1.250. Secara ekonomi, posisi saya saat itu sebenarnya sudah tidak memungkinkan melakukan manuver apa pun.</p>
<p>Tapi orang ini malah menyuruh saya <b>menambah Pertalite sepuluh ribu lagi.</b></p>
<p>Katanya supaya cukup untuk pulang-pergi.</p>
<p>Dalam hati saya bertanya:</p>
<p><i>“Wong iki tenanan apa ngece...?”</i></p>
<p>Perlahan-lahan saya mulai berani mengangkat kepala.</p>
<p>Saya tatap wajah petugas itu.</p>
<p>Sebentar.</p>
<p>Kok rasanya tidak asing.</p>
<p>Saya perhatikan lagi agak lama. Setelah otak yang sejak tadi sibuk mengurus krisis moneter sepuluh ribu rupiah mulai bekerja dengan benar, saya baru sadar.</p>
<p><b>Lha... aku kenal wong iki.</b></p>
<p>Bukan saudara. Bukan pula kerabat dalam arti sebenarnya. Dia anak menantu salah seorang teman akrab bapak saya.</p>
<p>Entah kenapa mengetahui hal itu bukannya membuat saya langsung lega.</p>
<p>Malah tambah isin.</p>
<p>Kalau sejak tadi dia orang asing, setelah urusan selesai mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Saya bisa pulang, mandi, tidur, lalu perlahan menghapus kejadian itu dari sejarah hidup.</p>
<p>Tapi ini beda.</p>
<p>Ini orang yang kenal bapak saya.</p>
<p>Artinya, tragedi uang palsu sepuluh ribu ini sekarang memiliki jalur distribusi informasi.</p>
<p>Entah karena gengsi, sungkan, atau sekadar usaha terakhir menyelamatkan harga diri, saya masih sempat mengatakan:</p>
<p><i>“Gak usah repot-repot...”</i></p>
<p>Padahal dalam hati saya sadar betul bahwa kalimat itu sama sekali tidak sesuai dengan kondisi keuangan saya.</p>
<p>Kalau orang itu benar-benar menjawab, <i>“Nggih sampun,”</i> lalu pergi, saya juga tidak tahu harus berbuat apa.</p>
<p>Pertalite sudah masuk tangki dan rasanya tidak mungkin disedot kembali menggunakan sedotan es teh.</p>
<p>Kalau tidak ada orang ini, bisa-bisa saya terpaksa ikut ngepel lantai SPBU untuk melunasi utang bensin.</p>
<p>Begitulah manusia.</p>
<p>Dalam keadaan benar-benar membutuhkan pertolongan pun, mulut kadang masih berusaha menjaga gengsi.</p>
<p><i>“Gak usah repot-repot...”</i></p>
<p>Padahal kalau diterjemahkan sesuai keadaan saat itu, mungkin maksud sebenarnya:</p>
<p><b><i>“Tulung aku, Mas. Tapi tulung aku tanpa membuatku terlihat seperti sedang ditulung.”</i></b></p>
<p>Dalam hidup, sesekali kita memang perlu mengalami kejadian seperti itu.</p>
<p>Bukan supaya kapok membawa uang sepuluh ribu. Bukan pula supaya setelah ini setiap menerima uang harus diterawang seperti petugas bank. Tetapi sekadar untuk mengingatkan bahwa <b>kepercayaan diri yang dibangun di atas keadaan finansial ternyata serapuh itu.</b></p>
<p>Apalagi kalau fondasinya cuma sepuluh ribu rupiah.</p>
<p>Beberapa menit sebelumnya saya berangkat dari rumah dengan cukup percaya diri. Sudah punya perhitungan: Pertalite satu liter, kopi dibayari teman, perjalanan aman. Bahkan sempat merapal <i>aji golek duit</i>, berharap modal sepuluh ribu berkembang menjadi lima ratus ribu.</p>
<p>Ternyata tidak perlu kehilangan lima ratus ribu untuk membuat kepercayaan diri itu runtuh.</p>
<p>Cukup seorang petugas SPBU mengatakan:</p>
<p><i>“Lha, niki palsu, Mas.”</i></p>
<p>Selesai.</p>
<p>Dalam beberapa detik, orang yang tadi berangkat dengan gagah berubah menjadi manusia yang tidak berani menatap langit, memeriksa saku yang sama berkali-kali, membuka dompet kosong, lalu mencari pertolongan terakhir kepada teknologi finansial yang ternyata hanya menyimpan Rp1.250.</p>
<p>Mungkin memang begitu sifat kepercayaan diri yang terlalu bergantung pada isi dompet. Selama kita merasa punya, badan sedikit lebih tegak. Bicara lebih tenang. Pesan Pertalite sepuluh ribu pun bisa dengan suara mantap: <i>“Sedasa ewu, Mas.”</i></p>
<p>Begitu yang kita kira punya ternyata tidak ada, bahkan wajah orang lain mendadak terasa terlalu berat untuk ditatap.</p>
<p>Hari itu saya ditolong seseorang yang kebetulan masih mengenal keluarga saya. Saya beruntung. Bahkan ketika ditawari menambah bensin supaya cukup untuk pulang-pergi, saya masih sempat berkata, <i>“Gak usah repot-repot.”</i></p>
<p>Padahal saya tahu betul: tanpa pertolongan itu, mungkin saya sedang bernegosiasi apakah utang Pertalite sepuluh ribu bisa dibayar dengan ikut ngepel lantai SPBU.</p>
<p>Barangkali yang perlu ditertawakan dari kejadian itu bukan uang palsunya.</p>
<p>Melainkan betapa mudahnya kita merasa gagah hanya karena merasa memiliki sesuatu. Dan betapa cepat kegagahan itu rontok ketika sesuatu yang kita jadikan sandaran ternyata hilang, habis, atau—seperti sepuluh ribu saya hari itu—<b>ternyata palsu.</b></p>
Ilustrasi AI Belakangan ini saya sedang bereksperimen dengan satu istilah yang sebenarnya bukan barang baru. Kata dasarnya sudah lama hidup dala…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhma8WKHqayLpAtMRiJXlF5HErLGpQMQd1DafPpYGXk9q6PYu8qOe7lOURemFG_-oFh3EqY1rVko-RsBZadaYQ6V44fjX5JskDqfJkY8TqyKE_nvs8CoaPZIO0pcBBCpi__5AfOZy_6JY5UAVMVOL_R7DKhuc0mjaKdp9JSr6OmxZNlI0b4-AiGafNDEjs/s640/ilustrasi%20sholawatan_resz.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhma8WKHqayLpAtMRiJXlF5HErLGpQMQd1DafPpYGXk9q6PYu8qOe7lOURemFG_-oFh3EqY1rVko-RsBZadaYQ6V44fjX5JskDqfJkY8TqyKE_nvs8CoaPZIO0pcBBCpi__5AfOZy_6JY5UAVMVOL_R7DKhuc0mjaKdp9JSr6OmxZNlI0b4-AiGafNDEjs/s1600-rw/ilustrasi%20sholawatan_resz.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi AI</td></tr></tbody></table>
<p>Belakangan ini saya sedang bereksperimen dengan satu istilah yang sebenarnya bukan barang baru. Kata dasarnya sudah lama hidup dalam percakapan orang Jawa: <b>maido</b>.</p>
<p>Entah karena terlalu banyak waktu luang atau memang kurang kerjaan, banyak orang yang kemudian memberinya sedikit sentuhan akademis agar terdengar lebih terhormat: <b>Maido Khasanah</b>.</p>
<p>Definisinya yang saya karang-karang sendiri kira-kira begini: <i>berprasangka buruk secukupnya, demi menemukan kemungkinan berbuat baik sebanyak-banyaknya.</i></p>
<p>Tentu saja "baik" yang saya maksud adalah baik menurut versi saya sendiri. Namanya juga maido. Kalau ukuran baiknya sudah pasti benar, berlaku universal, lengkap dengan dalil dan stempel, mungkin namanya bukan maido lagi. Bisa jadi fatwa.</p>
<p>Salah satu objek <i>Maido Khasanah</i> saya belakangan ini adalah sholawat.</p>
<p>Bukan sholawatnya.</p>
<p>Saya tidak punya cukup ilmu, apalagi keberanian, untuk maido sholawat. Yang saya <i>paido</i> adalah segala sesuatu yang tumbuh di sekelilingnya.</p>
<p>Beberapa tahun terakhir, grup-grup sholawat berkembang luar biasa. Ada yang awalnya kelompok kecil, tampil dari kampung ke kampung, kemudian semakin dikenal. Penggemarnya bertambah. Jadwal manggung semakin padat. Panggung semakin besar. Namanya masuk poster dengan ukuran huruf yang semakin lama semakin besar pula.</p>
<p>Seiring popularitas itu, bisyarohnya tentu ikut naik.</p>
<p>Saya tidak sedang mempersoalkan orang menerima bisyaroh. Personel grup sholawat juga manusia. Mereka makan nasi, bukan bacaan <i>Allahumma shalli 'ala Muhammad</i>. Kendaraan perlu bahan bakar. Alat perlu dibeli dan dirawat. Latihan membutuhkan waktu. Anak-istri di rumah juga tidak bisa diberi makan dengan tepuk tangan jamaah.</p>
<p>Jadi, dibayar itu wajar.</p>
<p>Bahkan kalau grupnya bagus, terkenal, dan banyak yang ingin mengundang, lalu bisyarohnya menjadi mahal, secara ekonomi juga tidak terlalu aneh.</p>
<p>Yang membuat penyakit <i>Maido Khasanah</i> saya kambuh justru bukan mahalnya.</p>
<h2>Ketika Cinta Mulai Punya Harga Pasar</h2>
<p>Kalau seorang penyanyi membawakan lagu milik orang lain, ada urusan hak cipta dan royalti. Kalau sebuah perusahaan menggunakan merek milik pihak lain, ada lisensi. Dunia modern cukup teliti mengatur siapa memperoleh bagian ketika karya, nama, atau sesuatu yang dimiliki orang lain menghasilkan nilai ekonomi.</p>
<p>Lalu saya melihat panggung sholawat.</p>
<p>Nama Kanjeng Nabi disebut berkali-kali. Sholawat dilantunkan. Jamaah datang karena kecintaan kepada beliau. Panitia berkeliling mencari dana. Donatur menyumbang. <i>Sound system</i> disewa. Panggung didirikan. Pedagang berdatangan. Tukang parkir bekerja. Grup memperoleh bisyaroh.</p>
<p>Kalau acaranya besar, uang yang berputar di sekeliling nama Kanjeng Nabi juga tidak sedikit.</p>
<p>Tidak ada masalah.</p>
<p>Malah bagus. Pedagang dapat rezeki. Tukang parkir dapat rezeki. Penyewa kursi dapat rezeki. Pemilik <i>sound system</i> dapat rezeki. Grup sholawat juga pulang membawa rezeki.</p>
<p>Hanya saja, sebagai orang yang telanjur menganut <i>Maido Khasanah</i>, pikiran saya kemudian kurang ajar:</p>
<p><b>Lha, royaltinya Kanjeng Nabi mana?</b></p>
<p>Tentu saja pertanyaan itu ngawur.</p>
<p>Kanjeng Nabi bukan pencipta lagu yang namanya terdaftar di lembaga manajemen kolektif. Tidak ada nomor rekening atas nama Muhammad bin Abdullah yang bisa dicantumkan panitia dalam laporan pertanggungjawaban.</p>
<p>Tetapi justru dari pertanyaan ngawur itu saya mulai merasa ada sesuatu yang pantas kita <i>paido</i>.</p>
<p>Kita bisa mengeluarkan uang cukup besar untuk merayakan kecintaan kepada Kanjeng Nabi. Kita bisa urunan mendatangkan grup yang sedang populer. Kita bisa mendirikan panggung megah dan memasang <i>sound system</i> yang dentuman bass-nya membuat kaca rumah tetangga ikut bersholawat.</p>
<p>Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan itu.</p>
<p>Tetapi setelah panggung dibongkar, kabel digulung dan grup pulang, saya cuma ingin bertanya:</p>
<p><b>Orang miskin di sekitar panggung tadi kebagian apa?</b></p>
<h2>Yang Disanjung, yang Terlupakan</h2>
<p>Ini sebenarnya yang mengganggu saya.</p>
<p>Bukan perkara grup sholawat menerima satu juta, tiga juta, lima juta, sepuluh juta, atau berapa pun. Popularitas memang mempunyai harga. Selama ada yang bersedia mengundang dan membayar, silakan saja.</p>
<p>Tetapi rasanya ganjil kalau <b>ekspresi kecintaan kepada Kanjeng Nabi mampu berkembang menjadi ekosistem ekonomi, sementara kepedulian kepada manusia lemah yang begitu mendapat perhatian dalam risalah beliau justru dianggap sebagai urusan yang berbeda.</b></p>
<p>Nama beliau kita sanjung.</p>
<p>Kisah beliau kita ceritakan.</p>
<p>Kelahiran beliau kita peringati.</p>
<p>Sholawat kepada beliau kita lantunkan berjam-jam.</p>
<p>Tetapi fakir miskin, anak yatim, tetangga yang kesulitan berobat, atau orang yang rumahnya hampir roboh kadang tetap harus mencari proposalnya sendiri.</p>
<p>Di sinilah <i>maidonya</i>.</p>
<p>Bukan berarti setiap acara sholawat harus dibatalkan lalu seluruh anggarannya dibelikan beras. Cara berpikir seperti itu juga terlalu gampang. Manusia membutuhkan kesenian, perayaan, perjumpaan, dan ruang untuk mengekspresikan kegembiraan beragama.</p>
<p>Tetapi masak iya, dari seluruh kegembiraan itu tidak ada sedikit bagian yang secara sengaja kita sisihkan untuk orang-orang yang justru berkali-kali mendapat perhatian dalam ajaran Kanjeng Nabi?</p>
<p>Tentu saya juga tidak tahu apa yang dilakukan masing-masing grup sholawat.</p>
<p>Bisa saja mereka selama ini sudah menyantuni yatim. Bisa jadi ada yang rutin membantu fakir miskin. Mungkin ada yang membiayai orang sakit tanpa kamera, tanpa unggahan Instagram, tanpa tulisan "Jumat Berkah" di spanduk.</p>
<p>Kalau memang demikian, alhamdulillah.</p>
<p>Berarti <i>maido</i> saya salah alamat.</p>
<p>Malah saya yang perlu belajar.</p>
<p>Tetapi kalau belum, izinkan penyakit <i>Maido Khasanah</i> ini diteruskan sedikit lagi.</p>
<p>Sebab saya tetap penasaran: <b>kalau cinta kepada Kanjeng Nabi mampu membuat kita mengumpulkan jutaan bahkan puluhan juta rupiah untuk satu malam, mengapa cinta yang sama tidak kita beri mekanisme sederhana agar orang miskin ikut merasakannya?</b></p>
<p>Rasanya kurang lengkap kalau nama Kanjeng Nabi begitu ramai di atas panggung, <b>sementara kepedulian kepada si miskin tetap sepi di luar pagar.</b></p>
<h2>Bayar Royalti Saja</h2>
<p>Karena sudah telanjur <i>maido</i>, saya sekalian mengusulkan sesuatu yang mungkin terdengar lebih ngawur:</p>
<p><b>Royalti untuk Kanjeng Nabi.</b></p>
<p>Caranya tidak perlu rumit. Misalnya sebuah grup memperoleh bisyaroh dari satu kali manggung. Sebelum uang masuk kas, dihitung transportasi, atau dibagi kepada personel, sisihkan sebagian kecil. Katakanlah <b>tiga persen</b>. Kalau sedang longgar, lima persen.</p>
<p>Dan jangan hanya grupnya.</p>
<p>Kalau panitia ternyata memperoleh keuntungan dari penyelenggaraan acara—<b>jika untung, lho ya</b>—boleh melakukan hal yang sama. Bukan dari modal atau biaya operasional, tentu saja, tetapi dari keuntungan yang memang tersisa.</p>
<p>Kalau ternyata nombok, ya jangan. Jangan sampai niat membantu fakir miskin malah melahirkan fakir miskin baru dari kalangan panitia.</p>
<p>Lagi pula, kita tahu sendiri, laporan panitia kadang mempunyai hukum ekonomi tersendiri. Acara boleh ramai, jamaah membludak, pedagang berderet, parkiran sampai meluber ke kebun tetangga. Tetapi ketika ditanya hasilnya, jawabannya bisa tetap sama:</p>
<p><i>"Alhamdulillah, sekadar nutup operasional."</i></p>
<p>Ya sudah.</p>
<p>Namanya juga <i>Maido Khasanah</i>. Kita percaya saja sambil tetap memelihara sedikit kecurigaan agar tradisi keilmuan ini tidak punah.</p>
<p>Dan jangan salah paham. Gagasan royalti tadi bukan zakat baru. Bukan pajak. Bukan pula aturan fikih bikinan saya. Jangan sampai besok ada yang bertanya dalil <i>Royalti Kanjeng Nabi</i>, lalu nama saya dicatat sebagai pendiri mazhab baru yang pengikutnya cuma saya sendiri.</p>
<p>Anggap saja etika kecil.</p>
<p>Bagian itu disisihkan sebelum dibagi, kemudian diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, orang sakit yang kesulitan biaya, lansia yang hidup sendirian, atau siapa saja yang sedang membutuhkan.</p>
<p>Kanjeng Nabi tentu tidak akan menerima uang itu.</p>
<p>Tetapi paling tidak, uang tersebut sampai kepada orang-orang yang mendapat tempat penting dalam risalah yang beliau bawa.</p>
<p>Dan menyisihkannya sejak awal menurut saya lebih masuk akal daripada menunggu semuanya masuk kantong lalu bertanya, <i>"Sopo sing gelem nyumbang?"</i></p>
<p>Kita tahu sendiri sifat uang. Ketika masih tergeletak di meja, rasanya gampang sekali membicarakan sedekah. Begitu masuk dompet, mendadak uang mempunyai gravitasi sendiri.</p>
<p>Berat sekali keluar.</p>
<h2>Setelah Semua Pulang</h2>
<p>Saya tidak sedang mengajak orang berhenti sholawatan.</p>
<p>Saya juga tidak sedang menyuruh grup sholawat menurunkan bisyaroh. Silakan profesional. Silakan populer. Silakan mempunyai manajemen yang bagus. Dan silakan memperoleh rezeki dari kemampuan yang memang dimiliki.</p>
<p>Saya cuma sedang <i>maido</i>.</p>
<p>Sebab sayang sekali kalau kecintaan kepada Kanjeng Nabi hanya berhasil membesarkan panggung, tetapi tidak ikut memperbesar kepedulian sosial kita.</p>
<p>Dan sebenarnya yang kena <i>paido</i> bukan grup sholawat saja.</p>
<p>Panitia kena.</p>
<p>Jamaah kena.</p>
<p>Orang yang menulis tulisan ini juga kena.</p>
<p>Kita bisa begitu bersemangat memperingati kelahiran Kanjeng Nabi. Kita melantunkan sholawat kepada beliau. Kita marah ketika kehormatan beliau diganggu. Bahkan kadang kita bertengkar dengan sesama manusia karena merasa sedang membela beliau.</p>
<p>Tetapi barangkali ukuran cinta tidak selalu terletak pada seberapa keras suara kita ketika menyebut namanya.</p>
<p><b>Kadang ukuran itu justru terlihat dari siapa yang ikut merasakan manfaat setelah namanya disebut.</b></p>
<p>Maka suatu malam, ketika panggung sudah selesai, grup sudah mendapat bisyaroh, kru sudah dibayar, pemilik <i>sound system</i> sudah menerima bagian, pedagang sudah menghitung keuntungan, panitia sudah selesai menghitung laporan—tentu saja kalau tidak sekadar <i>nutup operasional</i>—dan tukang parkir sudah menggulung rompinya, mungkin tidak ada salahnya kita menengok sebentar ke luar pagar.</p>
<p>Barangkali masih ada seseorang di sana yang selama ini hanya kebagian suara dari pengeras suara.</p>
<p>Kalau ada, anggap saja ia sedang menunggu <b>Royalti untuk Kanjeng Nabi</b>.</p>
<p>Bukan karena beliau membutuhkan uang kita, tetapi karena jangan-jangan kita sudah terlalu sering memperoleh kegembiraan, keramaian, bahkan rezeki dari kecintaan kepada beliau.</p>
<p>Kalau gagasan ini keliru, ya tidak apa-apa.</p>
<p>Namanya juga <b>Maido Khasanah</b>: <i>berprasangka buruk secukupnya, demi menemukan kemungkinan berbuat baik sebanyak-banyaknya.</i></p>
<p>Meskipun, sekali lagi, baik menurut versi saya sendiri.</p>
Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan. ilustrasi khafi.id “Mas, mbenjing sampean mriki nggih. Komputer kula mboten saget empan.” B…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgD5upSVtxSZCqNJr8bJDjfmXZMjXB5x3hJ-hG8M84X6qktlspnoYPC1mzGHqjr46Xeb6FHSOG7jSlNInP7iy2JF_l-x6NNVRJxLv9jC_g7kcV9QAAqfKysRqS5EdYm3tokpgsVte3VkkcnKkvrwAjxi5aP9ZkfQoyUo8Cj-sdf_Khs5ssULMvHHDX2BQ/s640/Ilsutrasi%20kasihan%20yang%20mengecewakan_resz.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img alt="Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan. ilustrasi khafi.id" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgD5upSVtxSZCqNJr8bJDjfmXZMjXB5x3hJ-hG8M84X6qktlspnoYPC1mzGHqjr46Xeb6FHSOG7jSlNInP7iy2JF_l-x6NNVRJxLv9jC_g7kcV9QAAqfKysRqS5EdYm3tokpgsVte3VkkcnKkvrwAjxi5aP9ZkfQoyUo8Cj-sdf_Khs5ssULMvHHDX2BQ/s1600-rw/Ilsutrasi%20kasihan%20yang%20mengecewakan_resz.png" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Windows 7, Badut, dan Rasa Kasihan yang Mengecewakan. ilustrasi khafi.id</td></tr></tbody></table><p><i>“Mas, mbenjing sampean mriki nggih. Komputer kula mboten saget empan.”</i></p>
<p>Begitu kira-kira pesan yang masuk melalui WhatsApp. Besoknya saya datang ke tempat yang dimaksud. Sebagaimana lazimnya orang yang dipanggil untuk <b>memperbaiki komputer</b>, saya datang membawa sedikit perkakas, sedikit pengetahuan, dan banyak doa agar kerusakannya tidak merembet ke mana-mana.</p>
<p>Di sana tinggal sebuah keluarga dengan empat anak. Anak pertama kira-kira seusia SMA, yang kedua SMP, ketiga SD, dan yang terakhir masih balita. Tidak tampak perabotan mewah. Komputer yang harus saya benahi pun sudah cukup berumur. Di casing-nya masih tertempel stiker <b>Windows 7</b>.</p>
<p>Saya menduga komputer itu memang lahir dan dibesarkan pada zaman Windows 7. Spesifikasinya dibuat untuk hidup damai bersama sistem operasi tersebut. Sayangnya zaman berubah. Banyak perangkat lunak tak lagi mendukung Windows 7. Mau tidak mau komputer tua itu harus dipaksa menerima Windows 10, bahkan mungkin Windows 11.</p>
<p>Lelet?</p>
<p>Ya jelas.</p>
<p>Kurang lebih seperti menyuruh simbah ikut lomba lari karena panitianya sudah tidak menyediakan kategori jalan sehat.</p>
<p>Mau meningkatkan spesifikasi tentu membutuhkan biaya. Sementara dari beberapa cerita yang saya dengar, pemilik komputer sedang punya banyak pinjaman di sana-sini. Rumah satu-satunya bahkan dikontrakkan, sementara keluarganya memilih tinggal di ruko yang sekaligus menjadi tempat usaha.</p>
<p>Entah kenapa, saya merasa kasihan.</p>
<h2>Rasa Kasihan dan Kesombongan Kecil</h2>
<p>Mungkin memang begitulah manusia. Kita memiliki semacam perangkat lunak bawaan bernama <b>belas kasih</b>. Orang komputer mungkin menyebutnya <i>default application</i>; orang bengkel barangkali lebih gampang membayangkannya sebagai onderdil bawaan. Sudah ada sejak barang keluar dari pabrik. Bisa saja dicopot, tetapi setelah itu jangan heran kalau cara kerjanya tidak lagi sebagaimana mestinya.</p>
<p>Rasa kasihan kadang merepotkan. Kadang membuat kita mengambil keputusan yang secara hitung-hitungan tidak terlalu masuk akal. Tetapi saya curiga, kalau perasaan itu benar-benar berhasil di-<i>uninstall</i>—dicabut sampai ke akar-akarnya—manusia justru akan mengalami <i>bug</i>.</p>
<p>Kalau istilah itu terdengar terlalu komputer, sebut saja <b>konslet batin</b>.</p>
<p>Orangnya masih hidup. Masih makan, bekerja, bercanda, bahkan mungkin rajin datang ke tempat ibadah. Tetapi melihat orang lain kesusahan tidak ada lagi sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.</p>
<p>Ada yang tidak beres.</p>
<p>Meski demikian, belakangan saya juga mulai curiga pada rasa kasihan.</p>
<p>Sebab terkadang, <i>rasa kasihan adalah salah satu bentuk kesombongan kita atas keberadaan kita sendiri.</i></p>
<p>Ketika mengasihani seseorang, tanpa sadar kita sering membuat perbandingan. Dia kurang beruntung, saya sedikit lebih beruntung. Dia sedang kesusahan, saya tidak sesusah itu. Kita memang tidak mengucapkannya, tetapi diam-diam rasa iba menyediakan sebuah <i>dingklik </i>kecil agar posisi kita terasa beberapa sentimeter lebih tinggi.</p>
<p>Sampai kemudian saya kebelet ke kamar mandi.</p>
<p>Di samping kamar mandi itu terparkir sebuah <b>Honda CR-V</b>. Masih gres, bersih, mengilap.</p>
<p>Saya diam sebentar.</p>
<p>Lalu teringat kendaraan yang saya pakai datang ke sana.</p>
<p>Honda juga.</p>
<p>Supra.</p>
<p>Bukan produk Toyota.</p>
<p>Totoknya bahkan sudah bergetar parah dan saya belum punya cukup ongkos untuk memperbaikinya. Lebih mengenaskan lagi, motor itu bukan sepenuhnya milik saya.</p>
<p>Milik bapak.</p>
<p>Rasa kasihan saya mendadak seperti aplikasi yang mengalami <i>not responding</i>. Kalau dalam bahasa sehari-hari: saya agak bingung harus meneruskan rasa iba tadi atau justru mengajukan proposal agar dikasihani balik.</p>
<p>Tentu saya tidak tahu CR-V itu dibeli tunai, kredit, pinjaman, milik keluarga, atau bagaimana. Dan memang bukan urusan saya. Tidak adil pula kalau keberadaan sebuah mobil kemudian dipakai untuk membatalkan seluruh kesulitan hidup seseorang.</p>
<p>Tetapi setidaknya hari itu saya mendapat peringatan kecil bahwa membaca kehidupan seseorang hanya dari komputer tua, rumah sederhana, jumlah anak, dan cerita utang rupanya tidak semudah membaca spesifikasi komputer.</p>
<p>Komputer masih enak. Kita bisa klik kanan, membuka <i>Properties</i>, lalu ketahuan RAM-nya berapa, prosesornya apa, kapasitas penyimpanannya berapa, dan kira-kira sanggup menjalankan program seperti apa.</p>
<p><b>Manusia tidak punya menu semacam itu.</b></p>
<h2>Badut, Pertalite Sepuluh Ribu, dan NMAX</h2>
<p>Sayangnya, saya termasuk manusia yang tidak terlalu cepat belajar.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian kejadian serupa terulang.</p>
<p>Saya memenuhi panggilan seseorang untuk memperbaiki komputer. Lagi-lagi komputer tua yang sudah sulit ditolong. Lagi-lagi saya mencoba sebisa mungkin. Dan lagi-lagi upah yang saya terima tidak seberapa, bahkan jauh di bawah harga pasaran.</p>
<p>Selepas Magrib, menjelang Isya, saya pulang.</p>
<p>Saya mampir ke sebuah SPBU. Uang di kantong tidak banyak. Saya berniat membeli Pertalite sepuluh ribu rupiah saja. Tidak berani lebih. Hitung-hitungan ekonomi saya malam itu cukup sederhana: yang penting motor bisa sampai rumah, sementara beberapa lembar uang masih tersisa untuk kebutuhan lain.</p>
<p>Di dekat jalan keluar SPBU ada seseorang memakai kostum <b>badut Upin</b>. Atau Ipin. Saya lupa. Saya tidak sempat memeriksa apakah rambutnya satu atau tiga.</p>
<p>Di belakangnya ada seorang anak kecil yang terus merengek. Saya tidak tahu meminta apa. Mungkin jajan. Mungkin ingin segera pulang. Karena antrean cukup panjang, saya sempat memperhatikan cukup lama. Sampai akhirnya si badut mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada anak itu.</p>
<p>Anaknya kemudian sedikit lebih tenang.</p>
<p>Dan penyakit lama saya kambuh.</p>
<p><b>Kasihan.</b></p>
<p>Setelah selesai mengisi Pertalite sepuluh ribu, saya melewati mereka. Saya keluarkan selembar uang dua ribuan lalu saya berikan kepada si badut.</p>
<p>Jumlahnya memang tidak seberapa. Tetapi kalau bensin yang baru saja saya beli hanya sepuluh ribu, dua ribu sebenarnya sudah dua puluh persen dari anggaran bahan bakar malam itu.</p>
<p>Saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan perasaan telah melakukan sesuatu yang lumayan manusiawi.</p>
<p>Sampai Supra yang bukan Toyota itu sedikit rewel. Lampunya mendadak bermasalah. Mungkin bohlamnya terlepas dari fitting karena sebelumnya sempat terperosok lubang jalan, atau karena sebab lain, saya tidak tahu pasti.</p>
<p>Saya berhenti tidak jauh dari sana.</p>
<p>Kebetulan jam kerja si badut juga tampaknya selesai. Kostumnya dilepas. Barang-barangnya dirapikan. Lalu saya melihat kendaraan yang dipakainya untuk pulang.</p>
<p><b>Yamaha NMAX keyless,</b> yang harga bekasnya saja, kalau dihitung kasar, mungkin masih cukup untuk membeli empat Supra seperti yang saya kendarai.</p>
<p>Saya melihat NMAX.</p>
<p>Melihat Supra.</p>
<p>Melihat NMAX lagi.</p>
<p>Saya tidak tahu harus mengasihani siapa.</p>
<p>Sekali lagi, badut itu sama sekali tidak bersalah. Bisa jadi NMAX tersebut kredit. Bisa jadi pinjaman. Bisa jadi hasil menabung bertahun-tahun. Bahkan kalau memang miliknya sendiri dan dibeli tunai, justru bagus. Artinya pekerjaan yang sering kita pandang sebelah mata ternyata mampu memberinya penghidupan.</p>
<p>Yang bermasalah justru saya.</p>
<p>Saya rupanya terlalu mudah menyusun kelas sosial orang lain berdasarkan apa yang terlihat beberapa menit. Melihat badut di pinggir jalan, pikiran langsung menyusun cerita tentang kesusahan. Melihat komputer Windows 7, empat anak, dan rumah sederhana, pikiran segera menulis laporan kemiskinan sendiri.</p>
<p>Padahal kehidupan orang tidak sesederhana tampilan luarnya.</p>
<p>Orang Jawa mungkin cukup mengatakan, <i>uripe uwong kuwi ora isa disawang mung saka njabane.</i> Kita tidak tahu apa yang sedang ditanggung seseorang hanya dari kendaraan, pekerjaan, pakaian, rumah, atau komputer yang digunakannya.</p>
<p>Sama seperti kita tidak tahu isi dapur hanya dengan melihat genteng rumahnya.</p>
<h2>Belas Kasih Tidak Perlu Di-uninstall</h2>
<p>Barangkali karena itulah rasa kasihan tetap perlu kita pelihara. Dunia akan jauh lebih mengerikan kalau manusia kehilangan kemampuan untuk iba kepada manusia lain. Biarlah ia tetap menjadi <i>software bawaan</i>, atau kalau mau lebih sederhana, onderdil bawaan yang tidak perlu dicopot dari manusia.</p>
<p>Yang perlu diperiksa justru satu komponen lain yang kadang ikut menempel di belakangnya: <b>kesombongan.</b></p>
<p>Sebab ada perbedaan tipis antara merasa kasihan kepada seseorang dan merasa lebih tinggi daripada orang yang kita kasihani.</p>
<p>Belas kasih seharusnya membuat kita mendekat kepada sesama manusia. Bukan menyediakan dingklik agar kita bisa berdiri sedikit lebih tinggi lalu memandang orang lain dari atas.</p>
<p>Saya sendiri sudah dua kali diberi pelajaran.</p>
<p>Yang pertama, saya kasihan kepada orang yang ternyata di samping kamar mandinya terparkir CR-V.</p>
<p>Yang kedua, saya memberikan dua ribu rupiah kepada badut yang kemudian pulang naik NMAX keyless.</p>
<p>Sementara saya pulang naik Supra.</p>
<p>Bukan Toyota.</p>
<p>Milik bapak pula.</p>
<p>Mungkin Gusti Allah memang punya selera humor yang agak keterlaluan. Dua kali saya dibuat merasa menjadi orang yang sedikit lebih beruntung, dua kali pula keadaan seperti menepuk pundak saya sambil berkata:</p>
<p><i>“Durung mesti, Mas.”</i></p>
<p>Maka kalau suatu hari nanti saya kembali merasa kasihan kepada seseorang, saya berharap rasa kasihan itu tetap ada. Saya tidak ingin meng-<i>uninstall</i>-nya. Saya juga tidak ingin mengalami konslet batin hanya karena terlalu sering kecewa setelah mengetahui orang yang saya kasihani ternyata punya kendaraan lebih bagus.</p>
<p>Saya hanya perlu mengingat satu hal:</p>
<p><b>Jangan terlalu cepat merasa berada di atas hanya karena sedang menunduk untuk menolong orang lain.</b></p>
<p>Sebab bisa saja setelah itu orang yang kita tolong pulang naik mobil.</p>
<p>Atau NMAX.</p>
<p>Sementara kita masih di pinggir jalan, membujuk Supra milik bapak agar mau diajak pulang.</p>
Ilustrasi Buku Islam ala Proboro terbit dan berhasil mengguncang dunia persosialmediaan. Seperti umumnya kegaduhan di media sosial, sebagian orang m…
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZZ6mHY2FrnYYI_Zw6V8DDK95Q_3f_e5AzzMUc4fzhCyVqQJz77YwET1GPuDDS9dihpg-kBYLs025yIyVU17j9TehtMRxfACKgEqM3XNFcevxYbBRBABhyphenhyphen-pw03Gr6Tl79rXx3xVviKEZJoiRfNmnSxq9OzscCyMGxt0PPwVYi3op8Ja0rxEuFnYtAT_o/s640/image1789021370" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZZ6mHY2FrnYYI_Zw6V8DDK95Q_3f_e5AzzMUc4fzhCyVqQJz77YwET1GPuDDS9dihpg-kBYLs025yIyVU17j9TehtMRxfACKgEqM3XNFcevxYbBRBABhyphenhyphen-pw03Gr6Tl79rXx3xVviKEZJoiRfNmnSxq9OzscCyMGxt0PPwVYi3op8Ja0rxEuFnYtAT_o/s1600-rw/image1789021370" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;">Ilustrasi</td></tr></tbody></table><p>Buku <i>Islam ala Proboro </i>terbit dan berhasil mengguncang dunia persosialmediaan. Seperti umumnya kegaduhan di media sosial, sebagian orang membela dan sibuk menafsirkan maksud buku tersebut. Meskipun saya punya kecurigaan kecil: jangan-jangan sebagian yang paling semangat menafsirkan itu juga belum selesai membacanya. Orang-orang yang jahat mulutnya bahkan menyebut mereka sebagai <i>tukang cebok rezim</i>. Saya tentu tidak ikut-ikutan. Saya hanya mengutip. 😁</p>
<p>Sebagian lainnya mengambil posisi sebaliknya. Mengkritik, mengecam, bahkan menghujat.</p>
<p>Lantas, apa hubungannya buku tersebut dengan judul tulisan ini?</p>
<p>Ya, sebenarnya tidak ada.</p>
<p>Saya hanya asal memberi judul.</p>
<h2>NU yang Terlalu Tenang?</h2>
<p>Tapi begini. Dalam kegaduhan buku itu, ada beberapa nama tokoh NU yang boleh dikatakan tidak sembarangan ikut dicatut. Ada Buya Said Aqil Siradj, ada Gus Kautsar. Nama-nama yang di kalangan warga NU tentu memiliki bobot tersendiri. Tetapi sejauh yang saya amati, NU sebagai organisasi kok tampak tenang-tenang saja.</p>
<p><b>Ah, mungkin NU memang pendiam.</b></p>
<p>Dan setelah dipikir-pikir, bukan hanya soal buku. Dalam banyak persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan jamaahnya pun, NU kadang terasa sangat tenang. Petani kesulitan pupuk, guru madrasah bertahun-tahun bergaji seadanya, buruh kehilangan pekerjaan, warga kecil berhadapan dengan kebijakan yang tidak adil, biaya pendidikan semakin berat. Padahal kalau mau dicari siapa orang-orang yang berada di lapisan bawah itu, bisa jadi sebagian besar adalah warga NU sendiri.</p>
<p>Mereka ikut tahlilan. Yasinan. Istighotsah. Menghadiri haul. Memasang bendera NU ketika hari besar tiba. Kalau ada pengajian, mereka datang membawa tikar sendiri.</p>
<p>Dan sebenarnya <b>kurang banyak apa orang-orang NU di pemerintahan?</b></p>
<p>Orang NU bukan sedang berdiri di luar pagar kekuasaan sambil mengintip dari sela-sela bambu. Mereka ada di dalam. Bahkan beberapa urusan yang bersentuhan langsung dengan kesejahteraan rakyat kebetulan juga pernah dan sedang dipegang oleh orang-orang yang berlatar belakang NU. Artinya, akses untuk sekadar menyampaikan kegelisahan <i>wong cilik</i> mestinya tidak terlalu jauh.</p>
<p>Tetapi entah mengapa, seperti banyak kejadian di seantero negeri ini, rakyat jelata sering tetap mendapatkan posisi yang sama: <b>menjadi alas tempat kekuasaan berdiri. Ya...termasuk menjadi alasnya elit PBNU yang berhasil jadi menteri.</b></p>
<p>Dan kritik ini tentu tidak hanya pantas diarahkan kepada pemerintah. Elite PBNU pun layak sesekali mendapat pertanyaan yang sama—tentu tidak semuanya. Ketika hubungan dengan kekuasaan begitu dekat, apakah kedekatan itu sedang dipakai untuk membawa suara jamaah masuk ke ruang kekuasaan, atau <b>jangan-jangan jamaahlah yang justru dipakai untuk memperbesar daya tawar di hadapan kekuasaan?</b></p>
<p>Pertanyaan itu mungkin kurang <i>ta’dzim</i>.</p>
<p>Tapi nanti dulu.</p>
<p>Kita, atau mungkin hanya saya saja, sejak kecil memang diajari tiga perkara penting: <i>tawadhu’, ta’dzim, sami’na wa atha’na</i>.</p>
<p>Semuanya ajaran yang indah.</p>
<p><i>Tawadhu’</i> mengajarkan agar manusia tidak merasa paling tinggi. <i>Ta’dzim</i> mengajarkan penghormatan kepada guru, kiai, dan orang berilmu. Sedangkan <i>sami’na wa atha’na</i> mengajarkan ketaatan kepada perkara yang baik.</p>
<p>Persoalannya muncul ketika tiga nilai luhur itu dibawa terlalu jauh ke ruang sosial dan kekuasaan.</p>
<p><i>Tawadhu’</i> perlahan diterjemahkan menjadi jangan terlalu banyak bertanya. <i>Ta’dzim</i> berubah menjadi jangan mengkritik tokoh. Sedangkan <i>sami’na wa atha’na</i> kadang disederhanakan menjadi satu kata yang sangat kita kenal: <b>manut</b>.</p>
<p>Kalau masih nekat bertanya, ada tingkatan peringatan berikutnya: <i>ora becik, ora ilok, ora patut</i>. Kalau kritiknya agak keras: <i>su’ul adab</i>. Kalau masih ngeyel juga, senjata pamungkas akhirnya dikeluarkan:</p>
<p><b>“Mengko kuwalat.”</b></p>
<p>Selesai sudah diskusi. Bahkan Habermas mungkin akan memilih pulang. 😁</p>
<p>Padahal <i>tawadhu’</i> tidak pernah berarti kehilangan keberanian bertanya. <i>Ta’dzim</i> tidak berarti mematikan akal. Dan <i>sami’na wa atha’na</i> tentu tidak dimaksudkan agar kita <b>sami’na kepada penderitaan rakyat, lalu atha’na kepada siapa saja yang sedang berkuasa.</b></p>
<h2>NU Lahir Bukan dari Orang-Orang yang Diam</h2>
<p>NU sendiri lahir bukan dari orang-orang yang diam.</p>
<p>Para muassis mendirikan organisasi karena melihat sesuatu yang perlu dijaga, diperjuangkan, dan dibela. Mereka bergerak karena keadaan memang menuntut gerakan. Maka agak ganjil kalau kemudian kita mewarisi organisasi dari orang-orang yang berani bergerak, tetapi perlahan membangun kebudayaan yang membuat warganya takut bersuara.</p>
<p>Tentu tidak adil mengatakan NU tidak berbuat apa-apa.</p><blockquote><p>Di bawah sana banyak kiai, guru, aktivis, Banser, Fatayat, Muslimat, Ansor, dan warga biasa yang bekerja tanpa kamera. Mereka mendampingi masyarakat, mengurus pendidikan, membantu tetangga, bahkan sering mengeluarkan uang sendiri.</p></blockquote>
<p>Yang patut ditanyakan justru sesuatu yang lain: <b>ketika persoalan rakyat berhadapan dengan kekuasaan, seberapa lantang suara kelembagaan kita terdengar?</b></p>
<p>Sebab kalau NU mengaku sebagai rumah besar umat, pertanyaannya bukan cuma siapa yang duduk di ruang tamunya, tetapi apakah tangisan orang-orang di dapurnya masih terdengar sampai ke ruang depan.</p>
<p>Jangan sampai warga kecil hanya terasa menjadi NU ketika dibutuhkan untuk memenuhi lapangan, meramaikan acara, mengibarkan bendera, dan menghitung besarnya jumlah jamaah. Tetapi ketika sawahnya bermasalah, pekerjaannya hilang, sekolah anaknya mahal, atau hidupnya terjepit kebijakan, kita meminta mereka kembali kepada tiga ajaran tadi:</p>
<p><i>Tawadhu’.</i></p>
<p><i>Ta’dzim.</i></p>
<p><i>Sami’na wa atha’na.</i></p>
<p>Mungkin saya memang salah memahami semuanya.</p>
<p>Barangkali menjadi NU memang harus pendiam.</p>
<p>Tetapi kalau benar begitu, saya cuma penasaran satu hal: <b>untuk apa organisasi sebesar ini mempunyai begitu banyak pengurus, kalau yang paling rajin bersuara justru spanduk ucapan selamat?</b></p>