Ada hari-hari ketika kejengkelan tidak datang sebagai amarah yang besar. Ia tidak berteriak. Tidak menuntut penjelasan. Ia hanya duduk di sudut kepal…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLcAxaAXFFNpFvDOECiCP2i1rZf7jzKrCQ9cyYLmPpJOhfv3FvTtDgbg5pWYxUxJ4u2ygOn5bUr22Hm4JEZ7lOFOcsDfiVZvJAIoKumy2DLVX_UR_X6qD44yEbdq8hHu73tRxP5xgpWnipsVmyUvLmtmNynBAVPISv1PHWocV_Ub2SYgXPN89ojijXS9Q/s1042/Catatan%20kejengkelan.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="586" data-original-width="1042" height="360" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLcAxaAXFFNpFvDOECiCP2i1rZf7jzKrCQ9cyYLmPpJOhfv3FvTtDgbg5pWYxUxJ4u2ygOn5bUr22Hm4JEZ7lOFOcsDfiVZvJAIoKumy2DLVX_UR_X6qD44yEbdq8hHu73tRxP5xgpWnipsVmyUvLmtmNynBAVPISv1PHWocV_Ub2SYgXPN89ojijXS9Q/w640-h360-rw/Catatan%20kejengkelan.png" width="640" /></a></div><p>Ada hari-hari ketika kejengkelan tidak datang sebagai amarah yang besar. Ia tidak berteriak. Tidak menuntut penjelasan. Ia hanya duduk di sudut kepala, diam, tapi mengganjal. Rasanya seperti batu kecil di sandal: tidak melukai, tapi cukup untuk membuat langkah terasa salah.</p><p>Entah perasaan apa yang sebenarnya singgah. Jengkel, marah, kecewa, atau sekadar ingin misuh-misuh. Saya tidak terlalu tertarik memberi nama yang presisi. Barangkali memang tidak semua perasaan perlu definisi. Ada yang cukup dicatat saja, lalu dibiarkan mengendap.</p><p>Dulu, ketika pertama kali masuk kampus, para mahasiswa senior—atau seniir, agar lebih jujur—datang dengan suara lantang dan keyakinan penuh. Mereka mengatakan mahasiswa adalah <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=define+agent+of+change&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Ddefine%2Bagent%2Bof%2Bchange%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>agent of change</a>. Kalimat itu diucapkan dengan nada hampir sakral, seolah status mahasiswa otomatis membawa mandat sejarah. Belakangan istilah itu diplesetkan menjadi <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=agen+of+ceng&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Dagen%2Bof%2Bceng%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>agen of ceng</a>. Bukan tanpa sebab. Mungkin karena kenyataan memang sering lebih kocak daripada slogan.</p><p>Kami diberi tahu bahwa mahasiswa harus kritis terhadap kebijakan pemerintah. Katanya, pemerintah selalu punya celah untuk menipu rakyat. Negara tidak pernah benar-benar netral. Kekuasaan, jika tidak diawasi, pasti menyimpang. Semua terdengar masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal untuk tidak dipercaya.</p><p>Lalu tibalah fase berikutnya. Saat kami resmi menjadi mahasiswa, punya NIM, dan mulai merasa sedikit penting. Di fase inilah kami pelan-pelan diarahkan—kadang dengan bujuk rayu, kadang dengan tekanan moral—untuk masuk ke <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=organisasi+ekstra+kampus&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Dorganisasi%2Bekstra%2Bkampus%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>organisasi ekstra</a> tertentu. Organisasi yang katanya besar. Punya jaringan kuat. Menguasai kampus, bahkan nasional. Mendengar cerita itu, rasanya seperti sedang diajak masuk ke ruang mesin sejarah.</p><p>Belakangan saya tahu, klaim itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan cenderung keliru. Ternyata yang benar-benar menguasai peta politik bukan organisasi ini. Ada kelompok lain yang lebih lihai membaca arah angin, lebih disiplin merawat loyalitas, dan lebih berani bermain di wilayah abu-abu. Tapi saat itu, kami belum tahu. Atau mungkin belum mau tahu.</p><p>Para senior juga mengatakan bahwa organisasi ini berada di bawah naungan <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=NU+Nahdlatul+Ulama&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3DNU%2BNahdlatul%2BUlama%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>NU</a>. Klaim ini menarik, sebab memberi kesan legitimasi moral sekaligus kultural. Dan memang, belakangan klaim itu terbukti—meski dengan catatan penting: ia baru benar setelah organisasi ini resmi dijadikan banom. Seolah-olah kebenaran datang belakangan, setelah struktur selesai dibangun.</p><p>Kami pun masuk. Menjadi aktivis. Menghadiri rapat-rapat panjang yang sering kali lebih melelahkan daripada mencerahkan. Diajari idealisme. Diajari cara berpikir kritis. Diajari membaca ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus dilawan, bukan sekadar disesali. Kami belajar istilah-istilah besar: <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=define+hegemoni&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Ddefine%2Bhegemoni%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>hegemoni</a>, <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=define+struktural&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Ddefine%2Bstruktural%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>struktural</a>, <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=define+pembebasan&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Ddefine%2Bpembebasan%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>pembebasan</a>, <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=define+keberpihakan&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Ddefine%2Bkeberpihakan%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>keberpihakan</a>.</p><p>Semua itu terdengar mulia. Dan mungkin, pada satu fase, memang tulus.</p><p>Namun waktu punya kebiasaan buruk: ia membongkar hal-hal yang dulu tampak rapi. Satu per satu, para senior yang dulu paling lantang bicara soal rakyat kecil, mulai berubah arah. Yang dulu mengecam politisi busuk, kini justru sibuk mencari foto bersama mereka. Yang dulu menertawakan kekuasaan, sekarang berusaha merapat ke pusatnya.</p><p>Idealisme yang dulu diajarkan sebagai nilai, perlahan berubah menjadi modal. Analisis kritis tidak lagi dipakai untuk membongkar ketidakadilan, tapi untuk membaca peluang. Kepedulian terhadap yang tertindas menyempit menjadi slogan di spanduk, cukup untuk konsumsi dokumentasi.</p><p><a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=George+Orwell&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3DGeorge%2BOrwell%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>Orwell</a> pernah menulis, kekuasaan tidak pernah benar-benar ingin memperbaiki apa pun. Ia hanya ingin bertahan. Dan barangkali, di titik inilah sebagian orang mulai menganggap bertahan lebih penting daripada jujur pada apa yang dulu mereka ajarkan.</p><p>Di titik inilah kejengkelan itu tumbuh. Bukan kejengkelan yang meledak-ledak. Melainkan yang pelan, dingin, dan bertahan lama. Sebab yang menjengkelkan bukan fakta bahwa orang berubah. Itu biasa. Yang menjengkelkan adalah ketika perubahan itu dibungkus seolah-olah konsistensi. Seolah-olah menjilat kekuasaan adalah bentuk baru dari perjuangan.</p><p>Ironisnya, mereka yang paling cepat menyesuaikan diri dengan politisi busuk, sering kali adalah mereka yang dulu paling keras mengajarkan moral. Yang dulu paling rajin mengutip <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=teori+pembebasan+definisi&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Dteori%2Bpembebasan%2Bdefinisi%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>teori pembebasan</a>, kini lebih fasih menyusun strategi bertahan. Yang dulu bicara soal keberpihakan, sekarang sibuk memastikan diri tidak tersingkir dari lingkaran.</p><p>Dan kita yang di bawah, hanya bisa mencatat. Pelan-pelan. Tanpa banyak suara. Sebab marah pun kadang terasa percuma. Yang tersisa hanyalah kejengkelan kecil yang terus disimpan. Seperti catatan ini.</p><p>Bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Juga bukan untuk mengklaim diri paling bersih. Catatan ini hanya ingin jujur: bahwa ada idealisme yang tidak mati, tetapi ditukar. Bahwa ada nilai yang tidak hilang, hanya digadaikan. Dan bahwa kejengkelan semacam ini barangkali adalah bentuk terakhir dari kepedulian yang belum sepenuhnya menyerah.</p><p>Kalau pun ingin misuh-misuh, mungkin cukup di catatan seperti ini saja. Agar tidak ikut busuk. Agar masih ada jarak. Sedikit saja.</p>
<div style="border-bottom: 2px solid rgb(204, 204, 204); margin-bottom: 8px; margin-left: auto; margin-top: 30px; width: 25%;"></div>
<div style="font-size: 14px; text-align: right;"><span style="color: #999999;">© <a class="b-tooltip-container" data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&q=khafi.id&bbid=972230968139967877&bpid=7566458065302901494" target="_blank"><span class="b-tooltip" style="display: none;"><iframe src="/share-widget?w=poi&o=t&u=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2Fsearch%3Fved%3D1t%3A260882%26q%3Dkhafi.id%26bbid%3D972230968139967877%26bpid%3D7566458065302901494"></iframe></span>khafi.id</a></span></div>
Ngudar Rasa
Catatan, gagasan, dan sudut pandang.
Ini bukan pamer. Kami hanya ingin berkisah, bahwa kami pernah— setidaknya pernah —bercita-cita menjadi orang pintar. Ya, sesekali kami membaca buku. …
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqZiQ3AZ01um7kBNW3c1d7JA1H8YqMHeWtnHQ6ElnE5MOJok9d_mU89jnBA84FRLVqFwWC8KAWH2piGVZBCYZ-mf9MctcgNFN-Hbv5pzYjvMrH0eeFGRvvmN0LtjwWfD1l6zFBUTI8Xn813HN1EPf-FjQcm9ZjjqtQSlMdTh-dgluUfOaRYihzVvmuQSw/s3840/Buku.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="2160" data-original-width="3840" height="360" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqZiQ3AZ01um7kBNW3c1d7JA1H8YqMHeWtnHQ6ElnE5MOJok9d_mU89jnBA84FRLVqFwWC8KAWH2piGVZBCYZ-mf9MctcgNFN-Hbv5pzYjvMrH0eeFGRvvmN0LtjwWfD1l6zFBUTI8Xn813HN1EPf-FjQcm9ZjjqtQSlMdTh-dgluUfOaRYihzVvmuQSw/w640-h360-rw/Buku.jpg" width="640" /></a></div><p>Ini bukan pamer. Kami hanya ingin berkisah, bahwa kami pernah—<i>setidaknya pernah</i>—bercita-cita menjadi orang pintar.</p><p>Ya, sesekali kami membaca buku. <i>Tidak sesering para magister atau doktor, tentu saja.</i> Tapi kami pernah duduk memelototi halaman demi halaman, menandai kalimat-kalimat yang katanya penting, dan mengangguk-angguk pura-pura paham. Kami kira, kepintaran itu bisa menyelamatkan kami dari kemiskinan.</p><p><i>Tapi ternyata tidak.</i></p><p><i>Dan...kami juga tidak pintar seperti yang kami cita-citakan sebelumnya.</i></p><p>Kami tetap miskin dan tidak terlalu pintar seperti para sarjana, magister atau doktor. Tapi setidaknya, kemiskinan kami masih ada sanadnya. Masih pula bereferensi. Karena hari ini, kemiskinan bukan hanya soal isi dompet. Ia adalah soal struktur. Soal sejarah. Soal sistem yang dibangun dengan rapi agar kami tetap ada di bawah.</p><p>Jadi kami belajar. Membaca. Mencoba memahami mengapa kami selalu kalah bahkan sebelum bertanding. Kami temukan Marx. Ia bukan nabi, tapi kalimat-kalimatnya seperti nubuat: “Sejarah segala masyarakat hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas.”</p><p>Kami pernah bertemu Paulo Freire—bukan secara langsung, tentu saja—melainkan lewat halaman bukunya. <b>Ia bilang, pendidikan itu seharusnya membebaskan, bukan menjinakkan.</b> Kami pun mulai percaya, mungkin benar: belajar bukan untuk jadi patuh, tapi untuk jadi sadar.</p><p>Tapi hidup berkata lain.</p><p>Kami sadar, justru yang paling banyak mendapat peluang—kerja, proyek, bahkan beasiswa—adalah mereka yang paling pandai patuh. Yang tahu kapan harus diam, kapan mengangguk, dan kepada siapa harus menyembah. Maka pendidikan tak lagi jadi jalan pembebasan, tapi jadi ujian kesetiaan. Yang tidak "<i>manut</i>", disingkirkan pelan-pelan.</p><blockquote><p>Mungkin Freire lupa menulis bab tentang bagaimana cara bertahan hidup di tengah sistem yang hanya membuka pintu untuk mereka yang tahu caranya merunduk.</p></blockquote><p>Kami juga membuka lembar-lembar Mythologies-nya Barthes. Di sana, kami belajar bahwa mitos tidak selalu berupa dewa atau legenda, tapi bisa berupa hal-hal yang tampak biasa: iklan, gaya hidup, bahkan kemiskinan. Maka kami pun curiga, jangan-jangan kemiskinan kami ini juga cuma mitos. Sebuah cerita yang terus diulang, hingga terdengar wajar.</p><p>Tapi kami tahu, ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar cerita: sistem.</p><p>Sebuah susunan besar yang—yah, entahlah—terkadang terasa seperti sengaja membiarkan kami tetap miskin.</p><p><i>(Halah… kok ndadak nyalahke sistem.)</i></p><p>Kami bahkan sempat membuka <b>Logika Marx karya Jindřich Zelený</b>, meski harus mengernyit lebih sering daripada mengerti. Tapi bukan berarti hidup kami berubah.</p><p>Kami tetap antre agar mendapatkan gas melon dan kebutuhan yang tersubsidi lainnya. Tetap menunggu bantuan. Tetap harus berpikir dua kali sebelum membeli minyak goreng. Karena membaca pemikiran-pemikiran Marx tidak lantas membuat harga minyak goreng turun.</p><p>Namun tetap kami baca. Karena kami percaya, kalaupun kami tak bisa keluar dari kemiskinan, setidaknya kami tahu bagaimana kemiskinan itu dibuat. Kami mungkin tidak bisa membeli rumah, tapi kami bisa membaca peta yang, entah kenapa, selalu membawa kami kembali ke tempat yang sama..</p><p>Dan ternyata, ada kebahagiaan yang aneh dalam membaca sambil tetap miskin. Miskin tapi paham. Tidak punya uang, tapi punya tafsir.</p><p>Kami juga pernah membaca Bertamasya ke Dunia Hiperrealitas—atau apalah judul pastinya, kami lupa. Kalau tidak salah, itu tulisan Umberto Eco. Isinya tentang Disneyland, kitsch, dan segala hal yang terlalu sempurna sampai kehilangan maknanya. Lalu kami berpikir, jangan-jangan kemiskinan kami ini juga semacam simulasi? Seolah-olah nyata, padahal hanya pengulangan simbol belaka. Dipamerkan, dikemas, disebarluaskan. Ditampilkan dalam iklan, diolah jadi konten donasi, dimanfaatkan sebagai cerita inspiratif.</p><p>Kami jadi curiga: mungkin kami memang miskin, tapi kemiskinan yang kami jalani ini bukan lagi sekadar kenyataan, ia sudah jadi tontonan. Sudah jadi narasi yang diatur agar publik bisa merasa peduli, tanpa benar-benar mengubah apa pun. Kami hidup di tengah hiperrealitas itu. Dimiskinkan sekaligus dipertontonkan.</p><p>Di saat yang lain, kami juga membaca Sartre. Kami merasa sedikit bahagia. Ternyata, hidup yang membingungkan bukan cuma milik kami. Bahkan filsuf sekelas Sartre pun gelisahnya tak ketulungan. Kami jadi agak tenang, karena artinya, kami tidak sendirian. Kami memang miskin, tapi setidaknya kami gelisah bersama orang besar. Bedanya, Sartre gelisah di kafe Paris dengan rokok dan kopi, kami gelisah di warung kopi rakyat jelata di pinggiran kota sambil minum kopi dengan sedikit gula dan rokok lintingan sendiri.</p><p>Apa lagi saat kami “berkenalan” dengan Knut Hamsun. Hunger, katanya. Kami pikir kami paham lapar, ternyata belum seberapa. Kami membaca kisahnya sambil mengingat sudah berapa panjang catatan utang kami, tapi tetap tak ada yang bisa menandingi kelaparan eksistensial Hamsun yang bikin orang bisa berbicara sendiri di jalan. Di balik semua itu, kami berdoa dalam diam: semoga kemiskinan kami cukup sampai di sini saja. Jangan sampai sedalam Hamsun. Cukuplah miskin kami sekadar soal ketidakpunyaan uang, bukan kelaparan yang sampai membuat kami berbincang dengan jendela toko. (<i>Lahul fatihah</i>....😁😁)</p><h3 style="text-align: left;">Sanad Kemiskinan Kami</h3><p>Kami menyebut diri miskin, bukan untuk pamer penderitaan. Tapi setidaknya, kemiskinan kami punya sanad. Ada Abu Dzar, ada Abu Hurairah, ada Uwais al-Qarni (<i>Lahumul faatihah...</i>). Mereka miskin, tapi punya kemuliaan. Kami? Ya... barangkali hanya ikut-ikutan atau sekedar agar miskin kami memiliki alasan dan agar kemiskinan ini tidak menjadi kemiskinan yang sekadar taklid buta.</p><p></p><blockquote><p>“Abu Dzar, apa kamu lihat gunung itu? Aku tidak ingin harta sebanyak gunung itu, kecuali untuk aku bagi-bagikan kepada orang-orang yang miskin.”</p><p>— Nabi Muhammad SAW (HR. Muslim)</p></blockquote><p></p><p>Meski sabda Nabi juga jelas:</p><blockquote><p>"Kefakiran dekat dengan kekufuran."</p></blockquote><p>Tapi setidaknya kami “sedikit” menjauh dari kekufuran itu dengan tidak menjadi terlalu amat bodoh sebagai umat Nabi Muhammad. Ya, meski sesekali kami harus mengingkari beberapa perintahnya… Untuk sedekah, misalnya.</p><p>Kami benar-benar ingin memberi, sungguh. Tapi kadang, bahkan gas melonpun tak bisa kami beli.</p><h3 style="text-align: left;">Penutup</h3><p>Jadi kalau ada yang bertanya, mengapa kami miskin tapi tetap sok bicara soal filsafat, pendidikan, dan keadilan, jawabannya sederhana:</p><p><i>Karena menjadi bodoh di tengah kemiskinan adalah nestapa berlapis. Dan kami tidak ingin terlalu malang.</i></p><p><b>Setidaknya, dalam kemiskinan ini, kami masih punya daftar pustaka. </b>Masih bisa menyisipkan footnote, meski kadang untuk beli catatan kaki pun kami harus ngutang… hehehe.</p><p>Jadi jangan salahkan kami kalau kami tetap keras kepala dengan buku-buku kami. Karena satu-satunya hal yang bisa kami lawan hanyalah kebodohan kami sendiri.</p><p style="text-align: center;">Dari pada</p>
<p style="font-style: italic; text-align: center;">“Wis bodho, gelut gak wani, ngeyel kalahan, mlarat meneh...”</p>
Beberapa waktu lalu, saya melihat foto seorang anak kecil yang sedang tertawa lepas sambil memegang es krim. Keterangan pada foto itu berbunyi: “Baha…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjT-FWWKmMh7R0FhZvnBRWNfQyLMXeswYLTDp3WNZ79m_ZHWLJV4xzCjl3F6UEhq6iFUkGim71NIcMh0t4LfOnRJefS2ftgbOq6ttH_DcGcYbOn6xwTeCgwz2lIWyURuO2gv8sFObD2HBjHCbXAJ_vU3wf54Syk5j1wTfji1xDwomhm3OduH5DEP0Lrx-Y/s1064/Ilustrasi%20orang%20dewasa%20bermain%20balon.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="597" data-original-width="1064" height="360" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjT-FWWKmMh7R0FhZvnBRWNfQyLMXeswYLTDp3WNZ79m_ZHWLJV4xzCjl3F6UEhq6iFUkGim71NIcMh0t4LfOnRJefS2ftgbOq6ttH_DcGcYbOn6xwTeCgwz2lIWyURuO2gv8sFObD2HBjHCbXAJ_vU3wf54Syk5j1wTfji1xDwomhm3OduH5DEP0Lrx-Y/w640-h360-rw/Ilustrasi%20orang%20dewasa%20bermain%20balon.png" width="640" /></a></div><p style="text-align: left;">Beberapa waktu lalu, saya melihat foto seorang anak kecil yang sedang tertawa lepas sambil memegang es krim. Keterangan pada foto itu berbunyi: <i>“Bahagia itu sederhana.”</i> Dan saya setuju. Bahkan, saking sederhananya, orang dewasa justru sering kesulitan mendapatkannya—bukan karena mahal, tetapi karena kita lupa caranya.</p>
<p>Perhatikanlah anak-anak. Mereka dapat merasa bahagia hanya dengan kardus bekas, berlari-lari kecil di gang sempit, atau mengejar layang-layang putus di pematang sawah. <b>Sementara orang dewasa? Sudah minum kopi, sudah beristirahat, sudah menonton video lucu selama satu jam, namun tetap merasa kosong.</b></p>
<p><b>Karena anak-anak memiliki satu hal yang tak lagi kita miliki: kepolosan.</b> Mereka belum mengenal cicilan, belum memahami harga kebutuhan pokok yang terus naik, dan belum pernah merasakan frustrasi karena pulsa habis saat sedang darurat. Hidup mereka masih penuh dengan rasa ingin tahu dan tawa-tawa kecil yang tak penting. Sementara kita, sebagai orang dewasa, harus menyesuaikan tawa—jangan terlalu keras, jangan terlalu sering—takut dianggap tidak sopan.</p>
<p><b>Dunia anak-anak absurd tetapi menyenangkan.</b> Pasir bisa menjadi nasi goreng, galah asin lebih penting daripada tugas sekolah, dan tembok rumah adalah kanvas bebas. Menangis adalah hal wajar, bukan sesuatu yang harus ditahan sambil pura-pura sibuk mencangkul.</p>
<p>Namun kenyataannya, kita ini telah dewasa. <b>Sudah tahu cara berhemat di akhir bulan, paham bahwa kabar dari tetangga menyebar lebih cepat daripada notifikasi WhatsApp, dan terbiasa menjawab pertanyaan hidup dengan senyum kebingungan.</b></p>
<p>Kepolosan masa kecil telah lama kita tinggalkan, mungkin sejak pertanyaan “Mau main apa hari ini?” digantikan oleh “Sudah kerja di mana?”</p>
<p><b>Namun jika kepolosan itu telah hilang, kita masih bisa merawat sifat kekanak-kanakan yang tersisa.</b> Bukan dengan cara merengek karena tidak dibelikan jajanan, tetapi dengan mengizinkan diri sendiri untuk <i>bahagia tanpa syarat.</i></p>
<p>Saya memiliki seorang teman yang setiap sore menonton ulang kartun <i>Upin Ipin</i>. Menurutnya, itu cara agar ia tetap merasa muda. Ibunya sempat bingung, namun lama-lama ikut menonton juga. “Ternyata lucu juga,” katanya.</p>
<p>Contoh lain, seorang kawan yang lain berusia 35 tahun masih gemar bermain kelereng bersama keponakannya. Ia menyebutnya hiburan yang murah dan menyenangkan. Dan tak segan dia menjelaskan pertanyaan: <i>"wis gerang kok panggah dolanan nekeran" </i>dengan jawaban: “Daripada menghabiskan waktu untuk hal yang tidak jelas, lebih baik ini,” katanya sambil tertawa.</p>
<p><b>Menjadi dewasa memang suatu keniscayaan, tetapi menjadi terlalu serius adalah pilihan yang melelahkan.</b> Dunia sudah cukup berat—cuaca kian panas, harga barang naik, dan jaringan internet kerap hilang. <b>Jika kita sendiri melarang diri untuk tertawa, bermain, dan sedikit norak sesekali, maka jangan heran jika hidup terasa makin sempit.</b></p>
<p><b>Kebahagiaan bukan soal memiliki segalanya, tetapi mampu menikmati sesuatu—sekecil apa pun itu.</b> Dan anak-anak adalah ahlinya. Mereka tidak bertanya, “Ini layang-layang buatan siapa? Aman atau tidak?” Mereka hanya berkata, “Seru, bisa terbang!” lalu berlari mengejarnya sampai terperosok ke selokan—dan malah tertawa sendiri.</p>
<p>Kita? Melihat langit cerah saja sudah curiga, “Jangan-jangan sebentar lagi dimintai sumbangan untuk acara RT.”</p>
<p><b>Atau, kalau masih malu juga untuk tertawa atau bermain sendiri, ya sudah—punya saja anak kecil.</b> Bukan semata-mata untuk melanjutkan garis keturunan, tapi supaya kamu punya alasan sah untuk main kejar-kejaran, nyanyi lagu anak-anak, atau nonton kartun tanpa dihakimi. Cukup ajak anakmu bermain, lalu tertawalah bersama mereka. Dunia akan memaklumi. Bahkan mungkin menganggapmu orang tua teladan.</p>
<p><b>Atau, barangkali, kita juga perlu merawat keingintahuan dengan cara yang riang pula—karena bisa jadi, matinya rasa ingin tahu adalah awal dari stres yang diam-diam menyelinap ke hidup kita.</b> Anak-anak bertanya karena mereka ingin tahu. Orang dewasa berhenti bertanya karena sudah lelah, atau merasa semua jawabannya tidak lagi menyenangkan. <b>Maka jangan heran jika hari-hari terasa hampa—sebab rasa ingin tahu itu tak lagi kita peluk.</b></p><p></p><blockquote><p><b>“The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing.”</b></p><p><i>“Yang penting adalah jangan pernah berhenti bertanya. Keingintahuan memiliki alasan tersendiri untuk ada.”</i></p><p></p><p>– Albert Einstein</p></blockquote><p></p>
<p>Jadi, jika Anda merasa kehilangan bahagia, mungkin yang hilang bukan nasib baik, melainkan izin untuk bersikap kekanak-kanakan. Ambillah kembali izin itu. <b>Tertawalah, bermainlah, menangislah jika perlu.</b> Belilah balon. Menarilah di dapur sambil menyanyikan lagu dangdut tahun 2000-an. Buatlah lelucon receh. Pandanglah langit, dan katakan, “Warna biru ini menenangkan, ya.”</p>
<p><b>Anda bukan kekanak-kanakan. Anda hanya sedang waras dengan cara yang lebih riang.</b></p><p></p><blockquote><b>“In every real man a child is hidden that wants to play.”<br data-end="301" data-start="298" /></b><i>“Dalam setiap orang dewasa yang sejati, tersembunyi seorang anak yang ingin bermain.”</i><br />— Friedrich Nietzsche</blockquote><p>Demikian <i>motifashit </i>kali ini, semoga bermanfaat. Ada ide lain? silahkan tinggalkan komentar di bawah, jika ada kolomnya 😁...</p>
Menyusuri Jalan Berdebu Bersama Foucault Sesekali, ketika sendirian, beban hidup terasa menempel di kepala seperti helm usang: berat, pengap…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9kTfYdqlR8ivuUd6iUc5LaEdsgkNypo_dzPSdwi9FOjQFGXYSF2WQyHXxJ5X1Bh-NtxVEKW4virHuqRFt2f9LFpwniNiFxem3iuYkVOWz23Rc7x6NbGW50bEuTHkrPRmNFwWl8ohZ7KwghvCJb8tvT5jjfhrwFW-0EeMJQnM-Wmol_ktCVmrpcXU3zkw/s1536/cd3817ad-ab16-4ec3-9750-131a0cd42972.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="1024" data-original-width="1536" height="426" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9kTfYdqlR8ivuUd6iUc5LaEdsgkNypo_dzPSdwi9FOjQFGXYSF2WQyHXxJ5X1Bh-NtxVEKW4virHuqRFt2f9LFpwniNiFxem3iuYkVOWz23Rc7x6NbGW50bEuTHkrPRmNFwWl8ohZ7KwghvCJb8tvT5jjfhrwFW-0EeMJQnM-Wmol_ktCVmrpcXU3zkw/w640-h426-rw/cd3817ad-ab16-4ec3-9750-131a0cd42972.png" width="640" /></a></div><br /><br />
<h2><i>Menyusuri Jalan Berdebu Bersama Foucault</i></h2>
<p>Sesekali, ketika sendirian, beban hidup terasa menempel di kepala seperti helm usang: berat, pengap, dan penuh gema pikiran sendiri. Saya pun menyalakan motor dan keluar rumah, bukan untuk mencari hiburan, tapi barangkali mencari sesuatu yang lebih nyata dari layar ponsel. Di perjalanan, saya melihat deretan toko kecil saling berimpitan. Etalasenya kusam. Barang dagangannya berdebu. Warna stiker merek sudah pudar karena panas, atau barangkali karena terlalu lama tak disentuh. Tidak laku, tentu. Tapi masih berdiri.</p>
<p><b>Seperti kita.</b></p>
<p>Tidak semua yang lusuh ingin menyerah. Tidak semua yang tidak laku ingin mati. Kadang, kita hanya terlalu diam untuk menjelaskan bahwa kita masih ingin bertahan. Dan kadang juga, kita hanya bisa tertawa agar tidak terdengar retak.</p>
<p>Di titik itu, saya teringat Michel Foucault—sejarawan kegilaan yang tidak waras, tapi terlalu jenius untuk dikurung. Dalam bukunya, <i>Madness and Civilization</i>, ia menyebut bahwa di zaman dahulu, orang gila bukan selalu dijauhi. Kadang mereka dianggap suci, kadang ditertawakan, tapi tetap ada dalam lanskap sosial. Baru setelah zaman rasionalisme datang, kegilaan diusir, dikurung, diatur, dan didisiplinkan. Demi ketertiban. Demi kenyamanan mayoritas.</p>
<p>Ironisnya, tawa—yang sering dianggap tanda kebahagiaan—tak pernah bisa dikurung. Badut di pasar abad pertengahan menertawakan raja. Komedian hari ini menertawakan depresi. Kita sendiri menertawakan hidup yang porak-poranda sambil mengetik, “LOL” dengan jari gemetar.</p>
<blockquote>
“Bahagia bukan soal tawa. Komedi bukan soal kelakar. <br />
Kadang, bahagia adalah tidur nyenyak tanpa beban. <br />
Dan komedi? Hidup berantakan yang kita anggap lelucon—<br />
karena kalau tidak ditertawakan, kita bisa gila.”
</blockquote>
<p>Tawa, dalam sejarahnya, bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk perlawanan kecil. Ia menunda runtuh. Ia menjeda tangis. Dan barangkali, itulah yang membuatnya lebih waras daripada semua standar kewarasan.</p>
<p>Tapi sayangnya, zaman ini begitu akrab dengan luka, sampai-sampai tawa mulai dicurigai. Beberapa pengamat kejiwaan menyebut, <i>orang yang paling sering tertawa justru menyimpan kesedihan yang paling dalam.</i> Dan akibatnya: orang pun mulai sungkan untuk tertawa. Takut dikira menyimpan trauma. Takut disangka menyembunyikan sesuatu yang lebih murung dari yang tampak.<br />
Lucu ya? Sekarang, bahkan tawa pun bisa jadi sesuatu yang menakutkan.</p>
<p>Jika standar kebahagiaan hanyalah tawa, barangkali kamu tidak perlu bekerja sekeras ini. Tidak perlu bangun subuh demi absen digital yang dingin dan tanpa wajah. Tidak perlu tersenyum sopan saat isi rekeningmu bahkan tidak sopan. Tapi tidak. Dunia tidak bertanya apakah kamu bahagia. Dunia hanya ingin tahu: “Kamu masih bisa kerja, kan?”</p>
<blockquote>
Maka, bersukurlah saat kita butuh tema komedi—agar <i>minimal</i> kita bisa tersenyum. Meski tak semua komedi mesti lucu, sebab puncak dari komedi adalah memahami, dengan sepenuh kesadaran, keadaan kita sendiri.
</blockquote>
<p>Dan barangkali, tawa kita—dengan penuh kesadaran—adalah benteng terakhir kesehatan mental, sebelum dunia memutuskan bahwa kita harus disuntik obat penenang.</p>
<p>Dan ketika saya kembali melewati toko berkarat itu, saya tersenyum kecil. Ia tetap berdiri. Meski berdebu. Meski tidak laku. Tapi ada. <br /><b>Seperti kita.</b></p>
Kita ini generasi yang asik . Selera kita tinggi—musik klasik, buku eksistensial, mimpi megah. Tapi bantal kita juga ber-tinggi , kasur kita tak p…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjV9bVwVm6_zz1l5ymmS3Y290j1SGR6MGH3zuD6p5ADFCYMsR6HXLAz8dGz_DPAq8odsvwr6WMsBAsMJlLGEzcDZgjKf9e15ZMHS7SAr2XHbd9fVVh-n0pUUfnRchp3Y1QjJ4vKVvrahZTv5eAaheYSXWocgSwDVDuZBiV2DoLp4gMRHuadnyOMYfETmg/s1074/2025-07-05_172456.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="599" data-original-width="1074" height="356" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjV9bVwVm6_zz1l5ymmS3Y290j1SGR6MGH3zuD6p5ADFCYMsR6HXLAz8dGz_DPAq8odsvwr6WMsBAsMJlLGEzcDZgjKf9e15ZMHS7SAr2XHbd9fVVh-n0pUUfnRchp3Y1QjJ4vKVvrahZTv5eAaheYSXWocgSwDVDuZBiV2DoLp4gMRHuadnyOMYfETmg/w640-h356-rw/2025-07-05_172456.png" width="640" /></a></div><br /><p>Kita ini generasi yang <i>asik</i>.<br />Selera kita tinggi—musik klasik, buku eksistensial, mimpi megah.<br />Tapi bantal kita juga <i>ber-tinggi</i>, kasur kita tak pernah sepi dari racauan ngengat dan tungau.</p>
<p>Siang hari, kita berusaha tampil berkelas. Memutar <i>Fur Elise</i> dari YouTube gratisan, pura-pura paham harmoni Beethoven yang katanya jenius. Sambil rebahan di kasur reot, dengan bantal penuh kutu kecil yang tak pernah benar-benar terusir.</p>
<p>Di samping bantal itu, terbuka dua bacaan yang membuat kita merasa sedikit cerdas: <i>L’Etranger</i> karya Albert Camus dan <i>Lapar</i> karya Knut Hamsun. Dua-duanya bercerita tentang absurditas dan kelaparan. Dua-duanya pas sekali menemani seseorang yang tak sengaja menjadikan hidupnya eksperimen eksistensial yang tak pernah diminta.</p>
<blockquote><i>"Hari ini Mama meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu."</i><br />– Albert Camus, <i>L’Etranger</i></blockquote>
<p>Kalimat pembuka Camus itu terdengar dingin, seakan tak peduli apa pun. Tapi pada akhirnya, kita juga sama—terlalu letih untuk mengingat tanggal, apalagi menghayati perasaan.</p>
<p>Malam datang. Kita ganti suasana. Earphone murahan ditancapkan. Kali ini bukan Beethoven, tapi Dream Theater—lagu <i>Endless Sacrifice</i> meledak di kepala.<br />
<i>Endless sacrifice… it’s never enough.</i><br />
Kita mengangguk pelan, seolah paham rasanya pengorbanan panjang yang tak pernah selesai. Padahal yang sebenarnya dipikirkan cuma: <i>Besok masih ada uang buat beli kerupuk, nggak ya?</i></p>
<p>Lucunya, saat nada progresif gitar Petrucci makin rumit, kita malah merasa semakin dekat dengan realitas paling sederhana: dompet kosong.<br />
Sampai akhirnya kita berhenti berpura-pura jadi penikmat musik progresif. Karena satu-satunya yang progresif di hidup ini hanyalah harga beras yang naik tanpa pamit.</p>
<p>Kadang orang bilang: <i>Kalau kau ingin hidup lebih baik, rajinlah bekerja.</i><br />
Padahal kita tahu, rajin bekerja pun sering cuma membuat lelah, tanpa banyak mengubah keadaan. Karena pada akhirnya, negara hampir tak pernah peduli dengan kita. Kita ini hanya angka kecil dalam laporan tahunan yang diketik setengah malas.</p>
<blockquote><i>"Aku merasa seakan-akan telah menyerahkan sesuatu yang penting di dalam diriku, sesuatu yang tak akan pernah kutemukan kembali."</i><br />– Knut Hamsun, <i>Lapar</i></blockquote>
<p>Mungkin itu martabat. Mungkin itu rasa aman. Atau sekadar harga diri yang makin tipis.</p>
<p>Tapi setidaknya, kita masih punya <b>imajinasi</b>. Masih punya beberapa <b>referensi</b> untuk mengolok kemiskinan sendiri. Masih bisa tertawa di antara remah kerupuk dan kutu bantal.</p>
<p>Kita hanya perlu sedikit kesadaran: <b>kemiskinan kita ini otentik.</b> Bukan kemiskinan yang dipentaskan di depan kamera, bukan kemiskinan palsu yang dirancang untuk mencuri simpati suara lima tahunan.</p>
<p>Dan anehnya, justru di situ kita menemukan sedikit kebebasan.<br />
Sedikit martabat yang tidak bisa dicuri siapa pun.<br />
Karena kalau hidup tak bisa dibikin layak, paling tidak kita bisa menertawakannya dengan cara paling jujur.</p>
<p><i>Di sini kita tidak perlu lagi repot-repot menggugat otensintas wahyu Tuhan ala Aksin Wijaya atau (yang agak ekstrim) Richard Dawkins—sebab kemiskinan kita sendiri sudah otentik.</i></p>
Ada komputer yang kadang seperti manusia tua: rewel hari ini, pasrah esok hari, lalu entah bagaimana tiba-tiba pulih tanpa penjelasan. Orang mungk…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAKLdIvidvB-w-jQeuuG82qe-pqHh8CtSaerkIXZGto96VMa8U4HS6-NohmiZXhsHsG-5rhuFtzjZAgWTijCKoVj2mI3jvvsEHXCMJ2hWbFe8oli69HFCcsgQKETJNqv1p9E5Qw5UIghVwT3H-pgS2ucDaOApmQxbnoeGdxUBO1wwjTPigUTe0ePurFpg/s2390/Ilustrasi%20komputer%20lama%20khafi.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="1342" data-original-width="2390" height="360" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAKLdIvidvB-w-jQeuuG82qe-pqHh8CtSaerkIXZGto96VMa8U4HS6-NohmiZXhsHsG-5rhuFtzjZAgWTijCKoVj2mI3jvvsEHXCMJ2hWbFe8oli69HFCcsgQKETJNqv1p9E5Qw5UIghVwT3H-pgS2ucDaOApmQxbnoeGdxUBO1wwjTPigUTe0ePurFpg/w640-h360-rw/Ilustrasi%20komputer%20lama%20khafi.png" width="640" /></a></div><br /><p>
Ada komputer yang kadang seperti manusia tua: rewel hari ini, pasrah esok hari, lalu entah bagaimana tiba-tiba pulih tanpa penjelasan. Orang mungkin menyebutnya sekadar kerusakan sistem operasi, driver usang, atau kabel jaringan yang longgar, tapi bagi sebagian teknisi yang sabar, kejadian semacam ini terasa mirip misteri yang tak layak dijawab tuntas. Sebab bila semua hal bisa diuraikan dalam tabel penyebab dan solusi, barangkali kita akan kehilangan rasa takjub terhadap hal-hal yang tampaknya sepele.
</p>
<p>
Beberapa komputer di sudut rental ini sudah melewati masa hidup yang panjang—prosesor tua yang hanya sanggup merangkak saat membuka dua tab browser, kipas pendingin yang meraung seperti pengakuan dosa, dan casing yang sudah berkali-kali dibuka hanya untuk memastikan kabel tidak bergeser setengah milimeter. Kita terkadang mencibir mereka sebagai “komputer jadul,” tapi anehnya, justru mesin-mesin sepuh inilah yang kerap bertahan paling lama. Mereka lambat, mudah tersinggung, tapi tak gampang mati. Barangkali karena pemiliknya tak menuntut macam-macam, atau karena perlawanan mereka terhadap keausan diciptakan dengan niat baik—bukan bagian dari rencana pabrik yang sengaja membuat barang rapuh agar kita cepat-cepat membeli pengganti.
</p>
<p>
Pada malam yang sedikit pengap itu, saya duduk di depan salah satunya, sambil memutar lagu agar ruangan tidak begitu senyap: <i>The Spirit Carries On</i> dari Dream Theater. Rasanya pas—karena kalaupun komputer ini akhirnya menyerah, setidaknya kita sudah mencoba segalanya. Saya tidak langsung terburu-buru mencabut harddisk atau memvonis format ulang. Mulai dari hal yang paling remeh dulu. Saya membuka Device Manager, menatap driver jaringan yang statusnya abu-abu, lalu mencoba <i>update driver</i>—meski sudah berkali-kali hasilnya nihil. Kabel LAN saya cabut, saya pasang lagi pelan-pelan, seakan jika gerakannya lebih lembut, komputer akan merasa lebih dihargai. Kadang saya mematikan pengaturan hemat daya di properti perangkat, sebab di komputer tua, penghematan sering berujung pemutusan sambungan yang tidak perlu. Kalau masih keras kepala, saya mengetik <code>netsh winsock reset</code> di jendela Command Prompt, semacam mantra kecil yang entah sejak kapan menjadi ritual wajib. Dan jika semua itu belum berhasil, ya sudah—restart. Sebuah tindakan sederhana yang sering disepelekan, padahal berkali-kali menyelamatkan muka teknisi di hadapan pemilik rental.
</p>
<p>
Ada yang bilang langkah-langkah ini terlalu sederhana, seperti orang berdiri di tepi sungai dan berharap airnya surut hanya dengan menatap. Tapi dari pengalaman, justru yang sederhana inilah yang kadang lebih mujarab daripada teori rumit yang panjang. Sebab tidak semua error datang dari sebab besar. Banyak yang lahir hanya dari pengabaian kecil yang menumpuk lama.
</p>
<blockquote>
Milan Kundera pernah menulis, yang saya lupa dimana tulisan itu tercantum<i>“The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting.”</i>
</blockquote>
<p>
Bisa jadi perjuangan teknisi hari ini bukan hanya melawan error, tetapi juga melawan amnesia: ingatan akan trik-trik kuno yang dulu berhasil, doa-doa kecil yang sempat diucapkan dalam hati ketika loading bar Windows tak kunjung penuh. Kita tidak selalu tahu mana bagian yang benar-benar rusak, sama seperti kita tak selalu tahu bagian mana dari hidup kita yang sesungguhnya lelah. Tapi kalau spirit kita mau bertahan, komputer pun terkadang ikut pulih.
</p>
<p>
Maka ketika mesin tua itu akhirnya nyala tanpa pesan error, saya hanya bisa tersenyum. Tidak sepenuhnya karena merasa berhasil, melainkan karena di dunia yang gemar membuang segala sesuatu yang lambat, masih ada satu-dua komputer tua yang diam-diam ingin bertahan lebih lama. Karena di dunia ini, tak semua yang lambat harus disingkirkan. Dan diam-diam, kita pun bersyukur diberi kesabaran untuk merawatnya.
</p>
<!--Slug dan Meta Description-->
<!--Slug: tes-kesaktian-spirit-carries-on
Meta Description: Cerita ringan teknisi yang merawat komputer tua dengan kesabaran, diiringi semangat The Spirit Carries On.--><p> </p>
Entah kenapa seminar, setidaknya bagi saya, bukan ruang yang tepat untuk mengembangkan diri atau sekadar menambah pengetahuan—minimal untuk sekadar …
<a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4D-Nz7zucSzM3B_SsvrH3FZz_zG_hCjvOoQB2NVthVQqnsQOyFbasmvuT0ofT0wov0gBqvMNijH43W7DYSVHAog2hfI_5hgySeBTl4NYmhT8Uh6rgHo-mjiqCI_icQWDRpVFvYPBqEAWYSsExcpF_W4Ol91sm1IgSAvANthK3ISCKeRLb5KZsk1X4M1k/s1328/Ilustrasi%20seminar-kafidh.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"><img border="0" data-original-height="1328" data-original-width="1328" height="640" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4D-Nz7zucSzM3B_SsvrH3FZz_zG_hCjvOoQB2NVthVQqnsQOyFbasmvuT0ofT0wov0gBqvMNijH43W7DYSVHAog2hfI_5hgySeBTl4NYmhT8Uh6rgHo-mjiqCI_icQWDRpVFvYPBqEAWYSsExcpF_W4Ol91sm1IgSAvANthK3ISCKeRLb5KZsk1X4M1k/w640-h640-rw/Ilustrasi%20seminar-kafidh.jpeg" width="640" /></a><br />
<p>Entah kenapa seminar, setidaknya bagi saya, bukan ruang yang tepat untuk mengembangkan diri atau sekadar menambah pengetahuan—minimal untuk sekadar paham. Meskipun, menurut beberapa dosen, seminar adalah gerbang menuju pengetahuan yang ideal. Bukan berarti saya menyelisihi pendapat itu. Tapi, begini…</p>
<p>Sering kali saya duduk di kursi seminar dengan mata yang memang terbuka, tetapi pikiran saya entah melayang ke mana. Mungkin ke halaman buku yang belum selesai saya baca, atau ke obrolan santai bersama teman yang justru lebih membuat saya paham. Di hadapan pembicara yang tampil penuh keyakinan, saya merasa seperti penonton yang tak benar-benar diajak berbicara. Materinya memang terdengar penting, cara penyampaiannya pun meyakinkan, tapi ada jarak yang tak kunjung rapat. Seminar, bagi saya, lebih sering menjadi ruang di mana saya hadir secara fisik, namun pulang tanpa membawa apa-apa selain tanda tangan daftar hadir—dan kalau boleh jujur, saya mungkin lebih memilih ngopi atau melakukan hal tidak berguna lainnya. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa kuliah saya tidak selesai dan saya gagal jadi sarjana… 😂</p>
<p>Tak jarang, model mental seperti ini membuat saya <em>nguda rasa</em> kepada diri sendiri. Barangkali memang saya tidak berbakat menjadi ilmuwan, atau sekurang-kurangnya memang tidak pantas menjadi sarjana. Apalagi menjadi intelektual ideal seperti yang dibayangkan Ali Shariati.</p>
<p>Namun seiring waktu, saya mulai bertanya-tanya, apakah ketidakcocokan itu sungguh berarti saya gagal? Ataukah saya hanya tidak pernah menemukan cara belajar yang sesuai dengan irama pikiran saya sendiri? Mungkin memang ada orang yang tumbuh di tengah seminar dan sorak tepuk tangan, tetapi ada pula yang lebih nyaman belajar dalam percakapan kecil, di sela ngopi, atau di halaman buku yang dibaca perlahan. Jika ukuran keberhasilan hanya ditentukan oleh kesanggupan duduk lama di kursi seminar, maka banyak kegelisahan seperti saya akan selalu dianggap malas, bodoh, atau kurang berambisi. Padahal, bisa jadi yang kurang bukan semangat, melainkan ruang yang membuat kami merasa tidak asing.<br />Oh… apakah memang karena bodoh, ya…?</p>
<p>Tapi, barangkali bukan hanya saya yang merasakan ini. Untuk orang-orang yang sejenis dengan saya—yang lebih sering gelisah ketimbang terpukau di ruang seminar—ada satu kutipan yang rasanya tak boleh dilupakan. Neil Postman, dalam <em>Teaching as a Subversive Activity</em>, menulis bahwa pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang merangsang pertanyaan, bukan sekadar memberi jawaban jadi. Seminar yang sibuk menawarkan jalan pintas—cara cepat sukses, lima langkah menjadi pengusaha, resep instan menjadi hebat—atau, dalam dunia kuliah saya di bidang agama: <em>Menjadi Motivator Masyarakat ala Fulan</em>, <em>Metodologi Penelitian Hadis ala Si Anu</em>, <em>Bedah Buku Tafsir yang Tak Pernah Saya Baca Sampai Habis</em>—justru perlahan membunuh daya pikir. Bagi sebagian orang, mungkin model itu menggerakkan. Tapi bagi kami, yang duduk di bangku sambil menahan kantuk dan bertanya-tanya apakah semua ini sungguh perlu, jawaban-jawaban cepat itu malah terasa seperti selimut yang menutupi rasa ingin tahu.</p>
<p>Tentu tidak menutup kemungkinan ada seminar-seminar yang lebih terbuka, yang memberi ruang untuk bertanya, bahkan mencoba berdialog. Tapi rasanya tetap ada yang kurang efektif. Bukan semata karena pembicaranya, melainkan karena bentuknya sendiri: terlalu banyak peserta, terlalu sedikit waktu, dan terlalu banyak yang harus disampaikan. Dalam kondisi begitu, jangankan menyerap dengan baik, mendengarkan pun kadang terasa seperti menampung air dengan telapak tangan. Sekilas basah, tapi tak banyak yang benar-benar tertinggal.</p>
<p>Saya sendiri lebih tertarik pada ruang kelas yang tidak seluas aula, dengan jumlah mahasiswa yang sedikit dan suasana yang lebih akrab. Di sana, saya merasa lebih mudah paham, lebih leluasa bertanya, dan lebih ringan untuk tidak merasa terasing. Rasanya seperti benar-benar diajak berpikir, bukan hanya diminta mendengar. Dosen yang saya sukai bukan hanya sekadar pintar—dalam arti tahu banyak dan bisa menjelaskan—tetapi juga cerdas, dalam arti mampu menyesuaikan cara menyampaikan dengan siapa yang sedang diajak bicara. Saya percaya, kepintaran bisa dibeli: lewat gelar, sertifikat, pelatihan, atau koneksi. Tapi kecerdasan, bagi saya, lahir dari kebiasaan belajar yang tenang, berulang, dan tidak sombong.</p>
<p>Pernah satu kali, di tengah perkuliahan yang suasananya sepi tapi hidup, dosen saya mengangkat soal kepandaian. Katanya, ada dua macam: kepandaian struktural dan kepandaian kultural. Struktural adalah kepandaian yang bisa dicatat dalam angka—nilai ujian, IPK, daftar prestasi. Tapi yang kultural lebih halus. Ia tak bisa ditulis di transkrip, tapi terasa dalam cara seseorang menyikapi hidup. Kamu bisa saja lulus dengan nilai nyaris sempurna, tapi tetap saja kikuk membaca situasi, kurang peka melihat tanda, atau kaku dalam berdialog. Dosen saya menyebut itu sebagai kepandaian yang belum matang secara kultural.</p>
<p>Saya menyimpan kata-kata itu cukup lama, mungkin karena merasa tertampar pelan. Sebab rasanya memang benar: ada banyak orang pandai, tapi tidak semua benar-benar paham. Dan mungkin, ruang kelas yang tenang, yang memberi waktu untuk berpikir tanpa sorotan, adalah tempat yang lebih subur bagi tumbuhnya kepandaian semacam itu—dibanding seminar yang ramai dan serba cepat.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya saya tak pernah benar-benar akrab dengan seminar. Saya sudah mencoba duduk manis, mencatat, bahkan pura-pura antusias, tapi tetap saja tak merasa tumbuh. Barangkali cara saya belajar memang lebih cocok di ruang yang kecil dan tenang, bersama orang-orang yang tak buru-buru memberi jawaban. Mungkin itu sebabnya kuliah saya tak selesai. Mungkin juga itu bukan sepenuhnya kesalahan. Siapa tahu, belajar memang punya jalannya sendiri—dan jalan saya, rupanya, tidak lewat panggung seminar.</p>
<p>Dan pada akhirnya, saya tetap seperti ini… tidak sepandai teman-teman saya yang menjadi sarjana. Rupanya, untuk bisa pandai seperti mereka, memang perlu <em>mumet</em>, dan saya waktu itu tidak sanggup. Tapi setidaknya, saya tidak mumet mengerjakan skripsi.</p>
<br /><br />
Saat saya masih kecil, setiap kali membaca buku yang menyertakan ilustrasi, saya selalu ingin masuk ke dalamnya—seakan menjadi bagian dari gambar it…
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheY4_DYS0sPn2M_4DAkIJmIa2BUE7iA-amnzSNvkCQOc-rQsa_noT-RCJ88Al7cocDYSpk4htqdTGFsaY-aten4jsG7orwexpBM4CPLBwj2bLkGrKcEVZD0vU9j0yOt1Sj7qKfK4YLm-sXHjmjEDWHeO6fc1ErlNQQsaJEmC7lSq4TwB3CnKFpnG-q1ac/s900/Ilustrasi%20anak%20melihat%20gambar-khafidh.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" data-original-height="508" data-original-width="900" height="362" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheY4_DYS0sPn2M_4DAkIJmIa2BUE7iA-amnzSNvkCQOc-rQsa_noT-RCJ88Al7cocDYSpk4htqdTGFsaY-aten4jsG7orwexpBM4CPLBwj2bLkGrKcEVZD0vU9j0yOt1Sj7qKfK4YLm-sXHjmjEDWHeO6fc1ErlNQQsaJEmC7lSq4TwB3CnKFpnG-q1ac/w640-h362-rw/Ilustrasi%20anak%20melihat%20gambar-khafidh.png" width="640" /></a></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: left;">Saat saya masih kecil, setiap kali membaca buku yang menyertakan ilustrasi, saya selalu ingin masuk ke dalamnya—seakan menjadi bagian dari gambar itu. Saya membayangkan hidup di sana terasa lebih mapan, lebih cukup. Kamu tahu, bukan? Ilustrasi dalam buku pelajaran, terutama Bahasa Indonesia, sering menampilkan keluarga yang tampak sejahtera: makan bersama, tersenyum di ruang tamu, memiliki televisi, dan tak jarang ada meja dengan taplak dan koran harian. Semua terlihat tenang dan lengkap.</div>
<p>Saya masih ingat salah satu gambar yang membekas. Seorang anak perempuan duduk bersama adik laki-lakinya. Ayah dan ibunya ada di situ juga, di ruang tamu, menonton televisi. Tapi bukan sekadar menonton—mereka tampaknya berdiskusi ringan tentang acara yang mereka lihat. Di sudut ruangan ada lemari kecil berisi buku. Di atas meja, tergeletak sebuah koran. Ruangan tampak rapi, wajah-wajahnya cerah. Tak ada suara pertengkaran, tak ada bayangan kelelahan, seolah dunia kecil mereka utuh dan tenteram.</p>
<p>Sebagai anak kecil, saya ingin masuk ke dalam gambar itu. Bukan hanya ingin melihat lebih dekat, tapi ingin tinggal di sana. Di ruang tamu yang tidak sumpek. Di tengah keluarga yang punya waktu duduk bersama. Dalam suasana rumah yang tidak buru-buru, tidak bising, tidak lelah.</p>
<hr />
<p>Belakangan saya menyadari, saya tidak sendirian. Banyak dari kita, terutama yang tumbuh dari keluarga sederhana—atau kalau dikatakan terus terang dan jujur: miskin—memandangi gambar-gambar itu bukan sebagai ilustrasi pelajaran, tapi sebagai jendela menuju dunia yang lebih baik. Kita kira, hidup seperti itu adalah standar. Yang lain-lain—yang kita alami—hanyalah kebetulan nasib.</p>
<p>Padahal gambar-gambar itu bukan sekadar gambar. Ia adalah semacam propaganda lembut. Ia menyampaikan pesan diam-diam: bahwa inilah kehidupan normal. Bahwa keluarga yang harmonis, sejahtera, dan cerdas itu bukan impian, tapi kenyataan biasa bagi warga negara yang baik.</p>
<p>Gambar dalam buku pelajaran tidak pernah netral. Ia membentuk imajinasi kolektif tentang “hidup wajar”. Normal berarti cukup makan. Normal berarti punya televisi. Normal berarti ayah dan ibu hadir, duduk bersama anak-anak, dan ada obrolan ringan di sela-sela berita.</p>
<p>Yang tidak digambarkan adalah keluarga yang hidup di rumah petak, atau rumah berdinding <i>gedheg</i>—anyaman bambu yang tak benar-benar bisa menahan dingin. Anak-anak yang harus bergiliran sepatu untuk sekolah. Ibu yang tak sempat membaca koran karena terlalu lelah mengurus segala urusan rumah tangga dan anak-anaknya yang sedikit nakal. Ayah yang pulangnya seminggu sekali, atau kalaupun tidak, pulang saat anak-anak sudah tidur karena kerja serabutan. Yang tidak tergambar adalah kekurangan, kelelahan, dan kecemasan yang sebenarnya lebih umum daripada gambar yang kita lihat.</p>
<p>Gambar-gambar itu bukan kebohongan. Tapi mereka menyembunyikan kenyataan. Mereka menyusun versi hidup yang rapi, dan mengajak kita percaya bahwa itu bisa jadi milik siapa saja—asal rajin belajar, patuh pada orang tua, dan tidak banyak bertanya, cukup bersikap baik kepada negara—dalam versi buku pelajaran, tentu saja.</p>
<hr />
<p>Kita tumbuh besar membawa harapan diam-diam itu. Dan seandainya suatu hari kita benar-benar punya rumah sendiri, bisa membeli televisi, bisa langganan koran, kita baru sadar: yang dulu kita cari bukan benda-bendanya. Tapi suasananya. Rasa cukupnya. Rasa tenangnya.</p>
<p>Dan ternyata, suasana itu tidak otomatis datang bersama televisi. Tidak serta-merta hadir dengan lemari buku. Tidak otomatis terbentuk hanya karena kita mengikuti semua nasihat di buku.</p>
<p>Yang dulu kita kira “dunia normal”, ternyata adalah narasi. Narasi tentang kesejahteraan yang tidak pernah menjelaskan bagaimana ia dicapai—dan siapa saja yang tertinggal dalam prosesnya.</p>
<hr />
<p>Kini, kita hidup dalam dunia yang lebih penuh gambar. Gambar tak lagi statis seperti di buku pelajaran. Ia mengalir setiap detik di layar ponsel. Instagram, TikTok, Youtube, semuanya menampilkan versi-versi baru dari rumah yang rapi, keluarga yang harmonis, dan hidup yang bahagia. Tapi wataknya masih sama: menyembunyikan. Merapikan kenyataan. Mengemas luka.</p>
<p>Kita masih ingin masuk ke gambar. Hanya saja sekarang gambar itu bergerak. Berkilau. Disertai musik latar.</p>
<p>Tapi rasa laparnya tetap sama: lapar akan hidup yang lebih utuh, lebih tenang, lebih bisa dikejar tanpa harus kehilangan diri.</p>
<p></p><blockquote><b>Mungkin, saatnya kita menggambar ulang hidup kita sendiri. Dengan kelelahan, dengan ketidaksempurnaan, tapi dengan kejujuran. Supaya kelak anak-anak kita tidak hanya melihat hidup, tapi juga merasakannya—tanpa ilusi, tanpa rasa kalah sebelum memulai.</b></blockquote><p></p>
<p>Kalau kita memang terpaksa hidup dalam kekurangan, mungkin yang bisa kita wariskan hanyalah pemahaman. Bahwa kemiskinan bukanlah aib, bukan kutukan, dan bukan pula akhir dari segalanya. Tidak semua orang tercipta untuk jadi kaya—dan itu bukan kesalahan siapa-siapa <i>(terkadang, salah negara sih...)</i>.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, kita mesti sadar: <i>kaya itu relatif, tapi miskin… sering kali terasa mutlak.</i></p>